11 May 2020, 16:10 WIB

'Suara Kirana' Menyuarakan Perlawanan Terhadap Pernikahan Anak


Bagus Pradana | Weekend

SEBAGAI  upaya menghentikan  perkawinan anak yang kadang menjadi momok di kalangan remaja Indonesia, Yayasan Plan International Indonesia  (PII) baru-baru ini tengah menggarap sebuah film pendek yang mereka tujukan sebagai sarana sosialisasi, bertajuk 'Suara Kirana'.

Suara Kirana bercerita tentang kisah seorang remaja putri yang harus merelakan cita-citanya karena menikah di usia yang sangat belia.  Kisah ini dimulai dari petualangan jurnalistik dua orang siswa SMA, bernama Anggi dan Indra dalam sebuah misi pencarian sahabat mereka, Kirana yang konon hilang secara mistis di Pantai Cisolok - Sukabumi. Setelah menelusuri, Anggi dan Indra pun akhirnya mendapatkan sebuah jawaban terang mengenai kabar dari sahabat mereka. Kirana ternyata hilang bukan karena kejadian mistik, melainkan karena malu kembali bertemu dengan teman-temannya akibat menikah di usia dini.

Film yang dibintangi Laras Sardi, Jourdy Pranata, dan Dhea Seto ini cukup mampu memberikan pemahaman tentang dampak negatif dari perkawinan anak yang marak terjadi di Indonesia, terutama bagi anak perempuan.

Kekhawatiran ini lah yang akhirnya menggerakan Yayasan Plan International Indonesia untuk terus mengkampanyekan #StopPerkawinanAnak dari tahun 2017. "Kami aktif dalam upaya advokasi hingga di tingkat desa. Selain itu, kami juga turut melibatkan kaum muda untuk menjadi pendidik sebaya dalam kampanye pencegahan perkawinan usia anak”, ungkap Budi Kurniawan selaku 'Project Manager PII, dalam keterangan pers, Minggu (10/5).

Dalam proses produksi film berdurasi 30 menitan ini, PII menggandeng Pasar Malam Films untuk penggarapannya. Film Suara Kirana telah resmi dirilis pada Sabtu (9/5) kemarin dan kini dapat dinikmati di kanal Youtube Plan Indonesia Official Channel. (M-4)

BERITA TERKAIT