11 May 2020, 15:20 WIB

Petani Padi Tahan hasil Panen tunggu Harga Stabil


Palce Amalo | Nusantara

PETANI padi di Kupang, Nusa Tenggara Timur memilih menahan penjualan beras menyusulnya anjloknya harga komoditas tersebut bersamaan panen raya.

Saat ini harga beras di tingkat petani sebesar Rp10 ribu per kilogram (kg). Harga sebesar itu sudah bertahan sejak akhir April lalu. Sebelumnya, harga beras di petani sebesar Rp11 ribu per kg dan harga beras di pasar antara Rp12 ribu hingga Rp13 ribu per kg.

"Karena harga  beras turun, petani di persawahan ini menunggu sampai harga naik kembali," kata Mel Foes, petani di Persawahan Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Senin (11/5).

Mel mengatakan selama pandemi covid-19, petani lebih mengutamakan kebutuan sendiri, daripada menjual beras ke pasar, serta mengantisipasi gagal tanam pada kemarau tahun ini yang berdampak terhadap persediaan beras.

"Bukan berarti petani sama sekali petani tidak menjual beras ke pasar. Kami menjual beras jika membutuhkan uang," tambahnya. Di antaranya membeli kebutuhan anak sekolah atau membeli pupuk dan pestisida, barulah mereka menjual beras.

Namun, dia berharap gabah beras kembali terdongkrak sehingga tidak merugikan petani, seperti pada musim paceklik. Tahun lalu, tambah dia, banyak petani di persawahan itu tidak menanam padi yang disebabkan pasokan air dari bendungan terhenti akibat kekeringan.

Mengantisipasi hal itu, pada musim kemarau tahun ini, sejumlah petani di persawahan yang berjarak sekitar 15 kilometer dari Kota Kupang itu belum memutuskan untuk menanam. Pantauan di persawahan tersebut, sebagian besar areal persawahan sudah selesai dipanen, termasuk Mel Foes. Gabah
hasil panennya diangkut ke rumahnya mengunakan truk. "Hari ini penen terakhir," ujarnya.

Menurutnya, hasil panen dari satu hektare lahanya sebanyak tujuh ton gabah, cukup untuk kebutuhan ia bersama keluarganya sampai akhir tahun ini.

Pantauan di Persawahan Manikin di Kelurahan Tarus, Kupang Tengah, hampir seluruh petani selesai panen. Petani yang panen, mulai membersihkan sawah untuk selanjutnya diolah untuk persiapan musim tanam kedua.

Minggus, petani di persawahan tersebut mengatakan pasokan air untuk persawahan Manikin berasal dari sumber air Tarus yang tidak pernah mengering di musim kemarau.

Persediaan air yang cukup mendorong petani setempat menanam berbagai tanaman hortikultura yang hasilnya dijual ke pasar tradisional di Kota Kupang, antara lain sawi, kangkung, jagung, terong, dan kacang panjang. (OL-13)

BERITA TERKAIT