11 May 2020, 14:35 WIB

Puluhan Hektare Lahan Bawang Merah di Aceh Terendam Banjir


Amiruddin Abdullah Reubee | Nusantara

SETELAH diguyur hujan terus menerus sejak empat hari terakhir, lahan bawang merah di kawasan Kecamatan Simpang Tiga, terendam banjir. Padahal tanaman pangan jenis bumbu masak itu sedang masa pertumbuhan atau berumur berkisar 19 hari hingga 35 hari.

Kecamatan Simpang Tiga, Kabupaten Pidie merupakan kawasan sentral prodiksi bawang merah di Provinsi Aceh. Hasil produksi setempat dipasok untuk kebutusan pasar di Aceh dan sekitarnya.

Amatan Media Indonesia, kawasan paling parah lahan bawang merah terendam banjir air hujan itu adalah di Desa Ceureucok Sagoe dan Desa Pulo Blang. Ketinggian air hingga menenggelamkan ratusan bedengan tanaman bawang.

Untuk mengatasi supaya tidak tenggelam lebih parah, puluhan petani harus menggunakan mesin pompa air. Apalagi awan hitam masih menutupi pemandangan langit setempat. diperkurakan intensitas hujan masih mengguyur kawasan itu dalam beberapa hari kedepan.

"Lahan saya (sekitar 1 ha) harus menggunakan tiga unit mesin pompa air. Itu pun sempat juga bedengannya ditengelamkan banjir" kata Ummi, petani bawang di Desa Pulo Blang, Minggu (10/5).

Bila hujan terus mengguyur, dikhawatirkan puluhan lahan bawang merah milik petani di Kecamatan Simpang Tiga, bisa gagal panen atau puso. Pasalnya kalau terendam terlalu lama pertumbuhan bawang terganggu dan bisa berakibat busuk buah.

"Hujan terus menerus dan kelembaban tinggi jaga bisa berakibat jamur dan hama penyakit" tutur M Yunus, petani bawang lainnya.

Para petani bawang di Kabupaten Pidie itu kecewa dengan pihak Dinas Pertanian Kabupaten Pidie dan Dinas Pertanian Provinsi Aceh. Pasalnya dalam kondisi kekhawatiran ancaman gagal panen akibat terendam banjir dan kelembaban tinggi, tidak ada bimbingan atau bantuan apapun dari dinas terkait itu.

Padahal dalam kondisi pandemi Covid-19 para petani itu merasa terpanggil untuk menanam bawah sebagai upaya meningkatkan produksi dalam negeri. Keinginan itu timbul bukan saja untuk mengejar harga tinggi. Tapi lebih dari itu, yakni ada niat baik dalam rangka menutupi kebutuhan atau ketersediaan pasar dalam negeri.

"Belum satu bulan habis memotong padi, turun lagi menanam bawang. Ini luar biasa jasa petani dalam kondisi kekhawatiran bahan pangan akibat terimbas Covid-19. Sayangnya ketika mereka terkendala dalam proses penanaman, hampir tidak ada respon pihak terkait" tutur Ibnu, pemerhati masalah pangan di
Aceh. (OL-13)

Baca Juga: ​​​​​​​Travel Gelap Mudik Beriklan di Medsos, Patok Harga Tinggi

BERITA TERKAIT