11 May 2020, 13:50 WIB

Mensesneg: Berpikir Kritis agar Tak Terjebak Hoax saat Wabah


Ardi T Hardi | Humaniora

PADA masa wabah Covid-19, banyak informasi yang beredar di masyarakat. Benar atau tidaknya informasi tersebut harus disikapi dengan berpikir kritis. Tujuannya agar tidak terjebak dengan informasi hoaks/bohong.

Menteri Sekretaris Negara, Pratikno menyebut, tidak semua informasi yang beredar sesuai dengan fakta. "Informasi yang banyak saling mencuri perhatian masyarakat, entah itu benar atau salah. Masyarakat memerlukan penyaring. Kalau berdasarkan hemat saya, penyaring tersebut adalah berpikir kritis," ujar Pratikno.

Pratikno ikut rembuk dalam bincang-bincang Iqro: Membaca Dinamika Zaman dari Beragam Perspektif, Minggu (10/5) malam, menyambut malam Nuzulul Quran sekaligus soft launching Masjid Kampus UGM, Mardliyyah.

Di acara yang dilangsungkan secara daring tersebut, Menteri BUMN, Erick Tohir menyampaikan, pemerintah sekarang telah melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan bangsa ini. Namun, di sisi lain, pemerintah menjaga agar tidak terjadi kepanikan di masyarakat. Pemerintah pun berupaya menggaet berbagai institusi, termasuk perguruan  tinggi, untuk bersama-sama menaggulangi Covid-19.

"Kami sudah memberi arahan-arahan apa yang harus dilakukan, tinggal bagaimana mereka mematuhinya," kata dia.

Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian/Aktivis, Alissa Qotrunnada Munawaroh atau dikenal Alissa Wahid mengatakan, berpikir kritis penting untuk memilah informasi. Ia pun mengingatkan, wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, yakni Iqra, yang artinya adalah bacalah.

"Masyarakat perlu membaca. Membaca dinamika zaman, melalui literatur-literatur penting untuk menyesuaikan diri dengan konteks situasi yang sedang mereka hadapi," kata dia.

Terkait pandemi Covid-19, Alissa berharap, masyarakat perlu melakukan perubahan perilaku dan pola pikir. Selain itu, Alissa pun menyarankan, pemerintah fokus pada inovasi penanggulangan Covid-19 dan gencar mengedukasi masyarakat terkait kebijakan-kebijakan yang dibuat.

"Anjuran-anjuran seperti social distancing, work from home, serta larangan mudik, pemerintah perlu melakukan upaya-upaya edukasi yang masif dan tegas kepada masyarakat," kata dia.

Rektor UGM, Prof Panut Mulyono melengkapi, UGM telah mengarahkan para akademisinya melakukan edukasi dan turun ke lapangan selama pandemi ini. "Kami siap membanjiri arus informasi masyarakat dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat," kata dia.

Pihaknya pun akan selalu terbuka jika pemerintah ingin bekerja sama dalam upaya penanggulangan Covid-19 ini agar pandemi bisa segera dilewati. (OL-3)

Baca Juga: ILUNI UI Beri Rekomendasi Penanganan Covid-19 untuk Pemerintah

BERITA TERKAIT