11 May 2020, 08:06 WIB

​​​​​​Iran Siap Bertukar Tahanan dengan AS tanpa Prasyarat


Haufan Hasyim Salengke | Internasional

PEMERINTAH Iran menyatakan siap untuk melakukan pertukaran tahanan penuh atau tanpa prasyarat dengan Amerika Serikat (AS). Ketegangan antara dua musuh bebuyutan telah meningkat sejak 2018 ketika Presiden AS Donald Trump keluar dari kesepakatan nuklir penting yang dinegosiasikan antara Teheran dan kekuatan dunia.

"Kami siap membahas masalah ini tanpa prasyarat apa pun, tetapi Amerika Serikat belum menanggapi," ujar juru bicara pemerintah Iran, Ali Rabiei, seperti dikutip oleh situs berita Khabar Online, Minggu (10/5).

"Kami berharap ketika wabah penyakit covid-19 mengancam jiwa warga Iran di penjara AS, pemerintah AS pada akhirnya akan lebih memilih nyawa daripada politik," kata Ali.

Rabiei mengatakan Teheran menganggap Washington bertanggung jawab atas kesehatan para tahanan Iran. Ia menambahkan "dampaknya AS memiliki lebih banyak kesiapan untuk mengakhiri situasi tersebut.

Rabiei tidak merinci tetapi media Iran dalam beberapa bulan terakhir mengatakan ada beberapa warga Iran dalam tahanan AS, termasuk Sirous Asgari, 60, seorang profesor universitas.

Baca juga: Inggris Kendorkan Lockdown Mulai Rabu

Seorang pejabat senior AS, yang tidak berwenang membahas masalah ini di depan umum dan berbicara dengan syarat anonim, mengatakan, "Belum ada tawaran dan tidak ada tawaran pembicaraan langsung."

Pekan lalu, para pejabat AS mengatakan mereka membuat kemajuan dalam upaya untuk mengamankan pembebasan Michael White, seorang veteran Angkatan Laut AS yang ditahan di Iran. Tetapi mereka juga menolak aksi Iran bahwa pertukaran sedang dilakukan.

Hillary Mann Leverett, CEO think-tank Stratega dan mantan diplomat AS, mencatat profesor Iran yang dipenjara di AS telah terinfeksi covid-19.

"Tidak ada mekanisme yang ditetapkan untuknya untuk mendapatkan perawatan medis. Dia benar-benar dalam kondisi yang buruk sekali. Dia telah dibebaskan dan tidak ada alasan mengapa Amerika Serikat perlu menahannya," ujarnya kepada Al Jazeera.

AS memiliki kasus covid-19 dan kematian akibat virus itu yang tertinggi di dunia. Iran, sementara itu, tercatat sebagai negara dengan wabah paling mematikan di Timur Tengah dan sejauh ini untuk sementara membebaskan sekitar 85.000 orang dari penjara dalam tindakan darurat.

Sebelumnya, dalam tindakan kerja sama yang langka, kedua negara melakukan pertukaran tahanan pada akhir 2019 yang difasilitasi oleh pemerintah Swiss.

"Tidak perlu negara ketiga untuk menengahi antara Iran dan AS untuk pertukaran tahanan," kata Rabiei, merujuk ke kesiapan sekarang. (Al Jazeera/A-2)

BERITA TERKAIT