11 May 2020, 07:40 WIB

Wujudkan Keadilan Sosial, Pemimpin Jangan Berpura-pura


Emir Chairullah | Politik dan Hukum

ANGGOTA Dewan Pengarah BPIP Buya Syafii Ma’arif mengakui pentingnya mencapai tujuan keadilan sosial dalam kehidupan Indonesia merdeka, terlebih hingga lebih dari 74 tahun Indonesia merdeka, belum bisa mewujudkan keadilan sosial tersebut.

Untuk menggambarkan keadilan sosial dalam perspektif ayat-ayat Makiyah, Buya Syafii Ma’arif merujuk penjelasannya pada tiga surat Alquran, yaitu Al-Balad (negeri), Al-Humazah (suka mengumpat), dan Al-Ma’un (orang-orang suka menolak memberikan pertolongan).

Menurut Buya Syaf i Ma’arif, ketiga surat tersebut memberi gambaran situasi masyarakat Qurays Mekah pada saat itu yang didominasi sekelompok oligarki penguasa ekonomi, tapi tidak punya kepedulian terhadap kaum yang lemah dan memberlakukan orang-orang miskin secara tidak manusiawi, seperti situasi dan kondisi yang masih terjadi hingga saat ini.

Padahal, seperti yang difirmankan Allah dalam QS Al-Balad “… Dan kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan (kebaikan dan keja hatan), tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar? Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? (yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya). ”

*Selanjutnya, Buya menjelaskan ayat QS Al-Humazah yang berbunyi “Celakalah bagi orang yang mencaci maki, yaitu orang-orang yang mengumpulkan harta dan menghitunghitungnya,” imbuh Buya dalam diskusi Ramadan daring dengan tema Sila ke-5 Pancasila perspektif ayat-ayat Makiyah.

Direktur Sosialisasi Komunikasi dan Jaringan, Aris Heru Utomo, menjelaskan keadilan sosial tidak terlepas dari fakta bahwa keadilan sosial merupakan hal penting dalam kehidupan bermasyarakat.

Dimoderatori Direktur Kajian Materi Mohammad Sabri, ada 84 orang peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan seorang di antaranya dari New Delhi, India, ikut berdiskusi menggunakan aplikasi Zoom. (Che/P-1)

BERITA TERKAIT