11 May 2020, 06:30 WIB

Odapus Diminta tidak Mudah Stres


Ardi Teresti Hardi | Humaniora

PERASAAN stres menjadi salah satu hal yang harus dihindari orang dengan lupus (odapus) karena bisa memicu kambuhnya penyakit lupus. Peringatan tersebut dikemukakan Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Kepe­rawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogjakarta, Prof Nyoman Kertia, bertepatan dengan peringatan Hari Lupus Dunia, kemarin, di tengah kondisi pandemi global covid-19.

“Stres, kecapekan, dan berjemur matahari bisa membuat penyakit ini (lupus) kambuh,” terangnya. Dia pun mengimbau odapus sebisa mungkin menjaga diri agar tidak kelelahan, tidak stres, dan tidak melakukan aktivitas berjemur matahari guna penyakitnya tidak mudah kambuh.

Lupus merupakan penyakit autoimun yang disebabkan sistem imun menyerang sel, jaringan, dan organ tubuh sendiri. Odapus memiliki risiko terhadap berbagai jenis infeksi bakteri maupun virus.

“Kondisi kekebalan odapus itu tidak sempurna, tetapi kalau patuh minum obat sesuai petunjuk dokter, kondisinya diharapkan akan baik-baik saja layaknya orang normal,” jelas dia.

Sistem kekebalan tubuh dalam kebanyakan orang menjadi pertahanan utama terhadap kuman serta penyakit. Namun, odapus lebih rentan terhadap infeksi karena sistem kekebalan tubuh bekerja secara berbeda dari orang pada umumnya. Sistem kekebalan pada odapus bekerja terlalu aktif dan menyerang tubuh sendiri.

Ia pun mengingatkan odapus rutin memeriksakan diri ke dokter dan mengonsumsi obat agar lupus bisa dikendalikan. Dengan rutin konsumsi obat akan mengurangi kerentanan atau risiko terhadap infeksi bakteri atau virus, termasuk covid-19.

“Asalkan minum obat dengan baik dari dokter risiko infeksi kuman bisa ditekan. Tapi kalau tidak patuh minum obat, ya rentan,” terang Ketua Departemen Penyakit Dalam FKKMK UGM itu.

Segala usia

Lupus bisa menyerang siapa saja di segala usia, tetapi kebanyakan perempuan usia produktif. Sekitar 80-85% penderita lupus merupakan perempuan.

Lupus merupakan salah satu jenis penyakit tidak menular yang masih menjadi persoalan kesehatan dunia. Hingga saat ini, diperkirakan terdapat 5 juta pasien lupus tersebar di seluruh dunia dan jumlahnya terus meningkat setiap tahunnya.

Saat ini, di Indonesia sendiri belum ada angka nasional jumlah penderita lupus termutakhir.
“Ada data dari Poliklinik Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM tahun 2009-2012 yang menunjukkan bahwa terdapat 2.618 kunjungan pasien baru maupun lama dari total 16.967 kunjungan atau mencakup sekitar 15,4% keseluruhan pasien di RS tersebut,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit tidak Menular Cut Putri Arianie, kemarin.

“Sementara di RS Hasan Sadikin, Bandung, terdapat 291 pasien atau 10,5% dari total pasien yang berobat ke poliklinik reumatologi selama 2010,” imbuhnya. (Ata/H-1)

BERITA TERKAIT