11 May 2020, 05:20 WIB

Sulit Tegas di Pasar Rakyat


Bayu Anggoro | Nusantara

BUKAN perkara mudah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di pasar tradi­sional. Pemerintah Kota Bandung, Jawa Barat, mengalaminya.

“Sudah kami coba di Pasar Andir dengan menerapkan jaga jarak antarpedagang sejak Maret lalu. Mereka menolak karena perenggangan mengharuskan sejumlah pedagang bergeser ke luar pasar, ke badan jalan, dan trotoar,” keluh Direktur Utama Perusahaan Dae­rah Pasar Bermartabat Kota Ban­dung Heri Heryawan, kemarin.

Saat ini pihaknya juga kesulitan memperluas atau mencari lahan tambahan di sekitar pasar. Ter­kendala di soal jaga jarak, pengelola pasar secara ketat menerapkan protokol kesehatan lainnya, yakni mewajibkan memakai masker untuk pedagang dan pe­ngunjung, menggunakan sarung tangan, dan menyediakan tempat cuci tangan dengan sabun.

“Kami terus mengimbau pembeli untuk jaga jarak saat masuk pasar,” tambah Heri.

PSBB se-Jawa Barat juga diwarnai aksi tegas Satpol PP Kabupaten Karawang saat menutup sejumlah toko nonsembako dan nonmedis yang nekat beroperasi.

“Kami menutup toko-toko di jalan protokol, yakni Jalan Tuparev, Jalan Ir Juanda, dan Jalan Arief Rahman Hakim,” ujar pejabat Satpol PP, Wahyu Cahyana Santoso.

Polres Cianjur juga bergerak melakukan penutupan tempat hiburan malam yang nekat buka di Kecamatan Haurwangi. Tujuh warga ditangkap, terdiri atas pemilik, perempuan pemandu lagu, dan pengunjung.

Sementara itu, tim gabungan di Subang yang melakukan penyekatan di jalur pantura dan jalur selatan terpaksa meminta puluhan kendaraan yang ditumpangi pemudik berputar arah.

“Jumlah pemudik yang mencoba masuk ke wilayah Subang terus bertambah. Sesuai tugas, kami terpaksa meminta mereka balik arah,” kata Kapolsek Sagalaherang Ajun Komisaris Darmono.

Jatim diperpanjang

Empat belas hari pemberlakuan PSBB di tiga kota di Jawa Timur, yakni Surabaya, Gresik dan Sidoarjo, ternyata belum cukup.

“Hasil telaah para pakar epidemiologi menyatakan PSBB perlu diperpanjang. Pola penyebaran covid-19 selama 14 hari terakhir masih cukup tinggi, terutama di Surabaya,” ujar Gubernur Khofifah Indar Parawansa setelah menggelar pertemuan dengan tiga kepala daerah, kemarin.

Kajian pakar mendapati sebagian pasien yang terjangkit memiliki masa penularan lebih dari 14 hari. Hanya 30% warga yang positif yang masa penularannya hanya 14 hari, 35% bisa 21 hari, dan 15% hingga 30 hari.

Jika fase 14 hari pertama merupakan masa edukasi dan imbauan, pada masa perpanjangan PSBB, Pemprov Jatim dan penegak hukum akan menerapkan tindakan tegas bagi pelanggar.

“Pelanggar tidak bisa memperpanjang SIM dan mengurus SKCK selama 6 bulan ke depan,” tandas Khofifah.

Di Sidoarjo, pelanggaran jam malam masih tinggi. Saat operasi terakhir pada Minggu malam, sebanyak 291 warga dijaring. “Tes cepat secara acak mendapati 3 orang di antaranya reaktif,” kata Kapolresta Kombes Sumardji.

Meski tidak menerapkan PSBB, penanganan pandemi di Bali mendapat apresiasi pemerintah pusat. Kebijakan penanggulangannya bisa menekan angka kematian dan membuat persentase kesembuhan pasien tinggi.

“Kami melibatkan semua unsur, mulai pemerintah hingga desa adat. Keseriusan semua pihak membuat jumlah pasien meninggal hanya empat orang dan pasien sembuh sudah mencapai 65% atau 195 orang,” tutur Gubernur I Wayan Koster. (CS/BB/RZ/AD/FL/HS/OL/DW/AU/LD/DY/MG/RF/YH/JL/N-3)

 

BERITA TERKAIT