11 May 2020, 05:00 WIB

Merdeka Belajar dan Mutu Pendidikan


Syamsir Alam Divisi Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma | Opini

PENILAIAN langsung (direct assessment) yang dilakukan secara internasional oleh OECD tentang pembelajaran dini (early learning) dan tingkat kesejahteraan anak berusia lima tahun menemukan bahwa terdapat kesenjangan yang signifikan antara pembelajaran dini anak-anak dengan latar belakang ekonomi yang baik/beruntung dan kurang beruntung.

Anak-anak berusia lima tahun dari keluarga kurang mampu berada jauh di belakang anak-anak yang lebih beruntung secara ekonomi dalam hal pembelajaran dan pengembangan (Andreas Schleicher, Maret 2020). Kesenjangan tersebut berpotensi akan semakin melebar seiring dengan pertumbuhan usia kedua kelompok anak itu, terutama jika intervensi terhadap anak-anak yang kurang mampu (disadvantaged family) di jenjang pendidikan usia dini dan dasar tidak sungguhsungguh dilakukan.

Namun, kondisi suram di atas, sebagaimana ditemukan dari hasil studi OECD, akan dapat dihindari atau setidaknya dikurangi dengan sejumlah intervensi pada anak yang kurang beruntung, termasuk pada orangtua mereka, sebagai berikut; pertama, memberi anak-anak dengan latar belakang yang kurang beruntung akses yang lebih baik terhadap pendidikan dan perawatan anak usia dini yang berkualitas tinggi.

Kedua, mendorong orangtua dan anggota keluarga lainnya untuk membacakan buku-buku kepada anakanak selama 5-7 hari dalam
seminggu. Ketiga, memberi anak-anak akses ke banyak buku anak-anak (lebih dari 100 buku ialah yang terbaik).

Keempat, membantu orangtua untuk terlibat dalam pusat pembelajaran atau sekolah anak mereka. Kelima, memungkinkan anak-anak untuk berpartisipasi dalam olahraga dan kegiatan berbasis masyarakat lainnya. Tindakan sederhana tersebut, sebagaimana ditemukan, sangat terkait dengan hasil belajar anak-anak.

Anak-anak dari keluarga miskin yang membaca hampir setiap hari menunjukkan keterampilan membaca yang jauh lebih tinggi daripada
anak-anak dari keluarga serupa yang tidak pernah atau jarang membaca (Andreas Schleicher, Maret 2020).


Merdeka belajar

Dengan berkaca dari hasil berbagai macam penilaian yang dimandatkan kepada institusi pendidikan selama ini, seperti UNBK, INAP, AKSI, PIRLS, TIMSS, dan PISA, kita akan dengan mudah menyimpulkan kesenjangan kualitas pada jenjang pendidikan dasar dan menengah merupakan sebuah kenyataan.

Kondisi itu terjadi terutama disebabkan terbatasnya akses terhadap guru dan sumber belajar berkualitas dan teknologi bagi sebagian siswa, yang secara ekonomi masih kurang beruntung (disadvantaged family).

Menyedihkan lagi, dalam masa pandemi covid-19, kesenjangan ini akan dapat semakin menganga karena keterbatasan sumber daya
ekonomi yang dialami sebagian siswa agar mereka dapat berpartisipasi pada kegiatan pembelajaran berbasis teknologi. Keadaan ini sudah mulai dirasakan sebagian siswa, guru, dan pengelola pendidikan.

Merdeka Belajar, sebagaimana yang digagas Mendikbud, berpeluang untuk mempersempit perbedaan kualitas (quality devide) tersebut,
melalui sejumlah program intervensi pendidikan yang sedang dan akan dilakukan, terutama dengan akan diperkenalkannya konsep kurikulum pembelajaran yang fleksibel dan beragam, penguatan otonomi dan kapasitas guru (berbasis kebutuhan), kepala sekolah (instructional management) dan teknologi pembelajaran.

Sebagaimana dikemukakan Mendikbud Nadiem Anwar Makarim pada forum webinar, yang diselenggarakan Media Indonesia (6/5), “Esensi dari Merdeka Belajar adalah memberikan potensi terbesar untuk para guru dan murid untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri; karenanya, pemerataan akses teknologi menjadi suatu hal yang tidak dapat ditawar. 

Pemerataan akses tersebut dapat meratakan kesenjangan dari pendidikan itu sendiri. Namun, strategi teknologi kedepannya tidak akan keluar dari esensi pendidikan, yakni kualitas dari tenaga pendidik atau guru. Kualitas guru menjadi hal terpenting karena ini tidak dapat digantikan oleh teknologi. Fokus inisiatif teknologi kita adalah untuk membantu guru meningkatkan potensi mereka.”

Lebih lanjut disampaikan bahwa Merdeka Belajar merupakan program pendidikan berjangka panjang dan keberhasilannya akan sangat membutuhkan dukungan banyak pihak, termasuk Kemenkominfo guna menjamin ketersediaan jaringan yang memadai dan terjangkau
bagi semua lapisan masyarakat, Kemendagri, Kemenkeu, dan pemangku pendidikan lainnya.


Otonomi dan keterlibatan

Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi di ruang kelas, sayangnya, belum secara otomatis akan menciptakan lingkungan belajar yang kreatif dan inovatif. Untuk mendukung penggunaan teknologi informasi, guru masih perlu menambahkan nilai yang akan dapat menciptakan peningkatan motivasi dan keterlibatan siswa (students engagement) dalam kegiatan pembelajaran.

Desain dalam pembelajaran sebagaimana dikehendaki konsep Merdeka Belajar mensyaratkan hadirnya otonomi guru dalam membuat setiap
keputusan pembelajaran, dan tersedianya ruang bagi siswa untuk memilih pengalaman pembelajaran yang dikehendaki. Untuk itu, guru perlu menyiapkan pilihan pengalaman pembelajaran yang menarik.

Dalam Self-Determination Theory (SDT) [Deci, EL, dan Ryan, RM (2012)] disebutkan bahwa setiap individu memiliki tiga kebutuhan psikologis bawaan yang memengaruhi motivasi mereka. Pertama, kompetensi (rasa kemajuan, keberhasilan, dan penguasaan).

Kedua, otonomi (rasa mampu membuat keputusan yang bermakna tentang perilaku), dan ketiga, keterkaitan (rasa koneksi dengan orang lain). Self-determination theory merupakan landasan teori yang relevan dengan konsep Merdeka Belajar karena teori ini menekankan pentingnya motivasi intrinsik, yang mengacu ke perbuatan atau melakukan sesuatu.

Karenanya, secara inheren menarik atau menyenangkan. Lingkungan belajar yang benar-benar inovatif ialah lingkungan yang melibatkan siswa dengan  cara yang mereka aktifkan dan pelajari karena mereka menginginkannya. 

Oleh karena itu, setiap elemen lingkungan pembelajaran yang inovatif harus dinilai berdasarkan sejauh mana ia berkontribusi terhadap rasa penguasaan, otonomi, keterkaitan/keterlibatan para peserta. Lingkungan seperti itu akan merangsang pembelajaran seumur hidup dan akan menghasilkan pengetahuan (deep learning), yang tidak hanya bertahan sampai ujian berikutnya. Wallahu a’lam bish-shawab.

BERITA TERKAIT