10 May 2020, 23:26 WIB

Jakarta Diprediksi Masih Physical Distancing Pascapandemi


Insi Nantika Jelita | Megapolitan

MESKI belum pasti mengetahui kapan pandemi Covid-19 di Jakarta berakhir, Vice president Asian Development Bank (ADB) Bambang Susantono memprediksi jalannya transportasi di Jakarta.

Ia menyebut, situasi di dalam halte, terminal atau stasiun bahkan di dalam kendaraan masih menerapkan physical distancing atau menjaga jarak dengan yang lain.

"Memang physical distancing itu berlawanan dengan arti massal sendiri. Tapi, kapasitas kendaraan juga tidak dilakukan secara normal usai pandemi. Warga tetap menjaga jarak saat mengantre karcis," ujar Bambang dalam diskusi 'Menjaga Transportasi di Jakarta tetap Lancar Pascapandemi Korona' secara virtual, Jakarta, Minggu (10/4).

Ia mencontohkan negara seperti Swiss, Korea, dan Beijing yang perlahan kembali normal usai pandemi tersebut. Menurutnya, di negara tersebut sudah menerapkan cashless dan pengurangan kontak secara langsung. Mereka mengandalkan aplikasi yang disiapkan pemerintah, jika ingin menaiki transportasi. "Yang menarik di Beijing itu mereka sediakan aplikasi untuk menjadwalkan keberangkatan warga di stasiun. Misalnya si A jam sekian naik keretanya. Hal itu untuk mencegah adanya antrian panjang," jelas Bambang.

Di negara maju lainnya, katanya, warga mengurangi intensitas menggunakan transportasi. Menurut Bambang, banyak dari mereka yang bakal berjalan kaki atau bersepeda selama beraktivitas. "Paling aman mereka menggunakan kendaraan pribadi. Tapi untuk di sini, pemerintah apakah mau menyediakan aplikasi seperti di Korea atau Tiongkok itu, kita lihat nanti," kata Bambang.

Pascapendemi juga, sebutnya, ketidakpercayaan atau distrust antara warga dengan lain juga masih tinggi. Penggunaan masker dan cuci tangan juga tidak akan ditinggalkan meski pandemi Covid-19 berakhir. (OL-12)

BERITA TERKAIT