10 May 2020, 11:20 WIB

Covid-19 Turun, Prancis dan Spanyol Siap Longgarkan Lockdown


Deri Dahuri | Internasional

MASYARAKAT Prancis dan Spanyol merupakan masyarakat yang paling terpukul oleh pandemi virus korona. Namun kedua negara berencana mengendurkan penerapan lockdown untuk menekan penyebaran virus korona baru atau Covd-19 yang telah menginfeksi 4 juta orang di seluruh dunia.

Sementara itu, di Amerika Serikat (AS) dengan angka kematian akibat tertinggi di dunia, Presiden Donald Trump terus menghadapi kritik tajam termasuk dari pendahulunya mantan Presiden Barack Obama. Dari sebuah percakapan yang bocor, Obama mengatakan bahwa penanganan Trump terhadap krisis (Covid-19) adalah "bencana yang luar biasa".

Di ‘Negeri Paman Sam’, pandemi Covid-19 telah merenggut lebih dari 78 ribu jiwa. Sedangkan, warga AS yang terpapar virus yang bermula muncul di Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok mencapai 1,3 juta. Laporan tersebut disampaikan Universitas Johns Hopkins.

Secara global, jumlah meninggal akibat Covid-19 telah melampaui 277.000 orang. Menurut perhitungan AFP, jumlah orang terpapar di seluruh mencapai lebih dari 4 juta.

Persoalan penerapan lockdown hampir di seluruh negara tak mudah. Saat lockdown diberlakukan, justru berdampak pada aktivitas bisnis dan perekonomian. Akibat lockdown yang bertujuan menekan penyebaran pandemi Covid-19, justru jutaan orang harus kehilangan pekerjaan dan menjadi titik balik secara global.

Di tengah jumlah kematian masih terus meningkat di beberapa negara, justru di beberapa negara Eropa mulai menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Bahkan beberapa negara siap untuk mencabut lockdown dan bergerak menuju ke kondisi normal.

Pada Sabtu (9/5), pejabat Prancis mengatakan jumlah korban meninggal telah mencapai terendah dengan 80 kemaian sejal awal April 2020. Namun Prancis mengakui kematian di tempat panti jompo masih tinggi jelang pelonggaran lockdown yang rencananya dimulai pada Senin (10/5).  

Jelang pelonggaran lockdown di Prancis, sebagian warga masih tak setuju dan khawatir justru akan kembali membuka peluang penyebaran virus korona.  

"Saya takut setengah mati," ucap Maya Flandin, seorang manajer toko buku dari Lyon. "Ini adalah tanggung jawab besar untuk melindungi staf dan pelanggan saya."

Pejabat kesehatan Prancis juga memperingatkan bahwa "epidemi masih aktif dan berkembang". Mereka juga berharap penerapan lockdown diperpanjang hingga 10 Juli.

Di Spanyol, sekitar setengah dari populasi akan diizinkan keluar mulaia Senin (11/5) sebagai bagian dari pelonggaran lockdown. Restoran-restoran juga akan buka memberi pelayanan seiring dengan rencana dicabutnya lockdown total pada Juni 2020 mendatang.

Kendati lockdown mulai dikendurkan di Spanyol, otoritas setempat masih bersikap hat-hati. Dua wilayah, Madrid dan Barcelona yang dikenal zona merah atau hotspot Covid-19 belum dilakukan pelonggaran lockdown. "Virusnya belum hilang," ucap Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez memperingatkan. (AFP/OL-09)

BERITA TERKAIT