10 May 2020, 07:20 WIB

Kaligrafi pun Diajarkan secara Daring di Pesantren Lemka


Benny Bastiandy | Ramadan

PADEMI covid-19 juga memengaruhi pembelajaran di Lembaga Kaligrafi Alquran (Lemka) di Jalan Bhineka Karya, Kelurahan Karamat, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Metode pembelajaran kaligrafi dilakukan secara daring bagi sebagian besar santri yang berada di tempat tinggalnya.

Pembelajaran dilakukan dengan dengan memanfaatkan aplikasi perpesanan video, seperti Whats App ataupun Zoom. “Jauh hari sebelum dilakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah dan provinsi, para santriawan dan santriwati kami mudik ke kampung halamannya karena saat itu libur. Namun, saat akan kembali lagi, sudah diberlakukan PSBB. Mereka belum bisa kembali lagi ke sini. Jadi, kami mengubah pola pembelajarannya dengan cara online,” terang Kepala Bidang Pendidikan dan Pelatihan Pesantren Lemka, Hilmi Munawwar, kepada Media Indonesia, Kamis (7/5).

Pola pembelajaran jarak jauh dengan sistem daring, sebut Hilmi, pada prinsipnya tidak ada kendala. Setiap santri diberikan materi melalui percakapan video (video call). “Hasil tulisan kaligrafi nanti kami koreksinya juga melalui video call. Kadang kendalanya pada jaringan seluler saja. Selebihnya tidak ada kendala,” tandasnya.

Lemka merupakan cikal bakal pesantren kaligrafi pertama di Indonesia. Pesantren itu berdiri kali pertama pada 1985. Sejumlah lulusannya telah menoreh kan prestasi gemilang pada berbagai lomba, termasuk dalam musabaqah tilawah quran (MTQ). Jumlah santri di Pesantren Lemka sebanyak 180 orang.

Mereka di antaranya berasal dari Kalimantan, Papua, Jawa Tengah, sejumlah daerah di Jawa Barat, serta dari Malaysia. Hampir 85% atau sekitar 150 orang santri masih berada di kampung halaman, sedangkan sisanya sekitar 30 orang masih di pesantren karena tak bisa pulang karena pemberlakuan PSBB. “Bagi santri yang masih mondok, materi pembelajarannya dilakukan secara langsung. Mereka yang ada di sini sudah tidak bisa mudik karena di daerahnya juga menerapkan PSBB. Kemungkinan mereka akan berlebaran di sini,” ucap Hilmi.

Sejumlah santri yang terpaksa tak bisa pulang mengaku mengisi waktu dengan mengikuti pelajaran tambahan. Proses pembelajarannya pun mengikuti standar protokol kesehatan dengan menjaga jarak.

Materi pembelajaran tulisan meliputi kaligrafi khat naskhi, kufi , fasiri, diwany, tsulus, dan riqah. Para santri mengaku, butuh waktu sekitar 8 jam untuk menyelesaikan satu tulisan kaligrafi . Terkadang bisa memakan waktu tiga hari untuk menghasilkan karya sempurna. “Sudah hampir 9 bulan atau sejak Agustus tahun lalu saya sudah berada di pesantren,” kata Siti Khatijah, santriwati asal Papua Barat.

Siti mengaku memperdalam kaligrafi kontemporer atau lebih ke alam. Ia pun mengungkapkan rasa rindu ingin berkumpul bersama keluarga. "Sedih sih Lebaran pasti gak bisa kumpul keluarga. Tapi mau gimana lagi, kalau memaksa pulang takut membawa virus,” tuturnya.

Hal senada diungkapkan Alwan Juhrufi , santri dari Sulawesi Selatan. Ia mengaku terpaksa tak pulang karena di daerahnya juga sedang dilakukan PSBB akibat pandemi covid-19. “Pasti akan berlebaran di sini saja bersama santri lainnya,” tegas Alwan. (Benny Bastiandy/H-3)

BERITA TERKAIT