10 May 2020, 07:00 WIB

Puasa dan Kesabaran


ATIKAH ISHMAH WINAHYU | Ramadan

PUASA ialah ibadah yang sangat istimewa karena merupakan madrasah kemanusiaan, saat manusia ditempa, dibimbing, dan dilatih kesabarannya saat bulan Ramadan.

Saat kita berpuasa, terjadi keintiman kita dengan Allah SWT karena hanya kita dan Allah yang tahu apa yang kita lakukan. “Saat berpuasa, latihan totalitas karena Allah. Ada harta milik sendiri minuman milik sendiri, istri sendiri, tapi kita meninggalkan syahwat, makan, dan minum karena Allah. Kalau yang halal saja bisa kita tinggalkan, apalagi yang haram,” kata Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Ustaz Cholil Nafis dalam tausiah Puasa dan kesabaran, Rabu (6/5).

Orang-orang yang berpuasa adalah orang-orang yang sabar. Orang yang mampu menahan hawa nafsunya untuk mendekatkan diri pada Allah. Orang yang mampu untuk tidak melakukan sesuatu hanya karena ingin dekat dengan Allah.

Dalam Surah Az-Zumar ayat 10 Allah berfi rman, Allah akan berikan, cukupkan orang-orang yang sabar pahala tanpa hitungan. Artinya, Allah dapat melipatgandakan pahala orang-orang yang sabar hingga tidak terbatas. “Sabda Rasul, puasa itu separuh dari kesabaran kita. Sabar melawan hawa nafsu, sabar tidak melakukan kemungkaran. Karena itu, dari puasa kita tidak semua sempurna. Ada yang tidak punya efek apa-apa,” tuturnya.

Berpuasa bukanlah hal yang mudah bagi umat manusia. Ada sebagian di antara mereka mengerjakan ibadah puasa hanya untuk menggugurkan kewajiban tanpa memperoleh apa-apa.

Ustaz Cholil menuturkan Imam Al Ghazali membagi tingkatan puasa menjadi tiga level, yaitu puasa umum, puasa khusus dan puasa yang sangat khusus. “Puasanya orang pada umumnya ialah yang hanya puasa perut dan syahwat, tidak makan, tidak minum, tidak ada arti lain. Hanya menggugurkan kewajiban tapi faedah dan hikmah berpuasa tidak dapat,” jelasnya.

Puasa pada tingkatan berikutnya, yaitu puasa khusus atau istimewa, yakni umat manusia yang meninggalkan dosa-dosa dari organ tubuhnya.

Puasa yang dapat meninggalkan dosa mata saat melihat, telinga saat mendengar, mulut saat berbicara, bahkan tangan mengetik. Berpuasa dari kemungkaran mencaci dan menyakiti orang. Pada saat menjalankan puasa, kita merasa sangat dekat dan selalu diawasi oleh Allah. “Barangsiapa tidak mampu meninggalkan ucapan buruk dan perbuatan keji, Allah tidak butuh untuk meninggalkan makan dan minumnya. Puasa bukan cuma makan dan minum,” imbuhnya.

Sementara itu, tingkatan yang tertinggi, puasa yang sangat istimewa adalah puasa hati dari keinginan-keinginan yang rendah seperti memikirkan jabatan dan harta duniawi. Artinya, saat menjalankan puasa kita tidak teringat dengan hal lain, kecuali Allah. “Ini agak sulit dilaksanakan hanya orang-orang yang dipilih oleh Allah, yang sehari penuh hanya terpikir Allah, tidak pernah terlintas hal lain,” ujarnya.

Kesempurnaan puasa kita menjadi orang sabar, sabar meninggalkan kepentingan diri, sabar meninggalkan dunia, inilah yang disebut bahwa Allah memberikan pahala tanpa batas.

Tanda-tanda puasa diterima oleh Allah yaitu manakala kita memiliki perubahan pada diri kita, kembali pada kefi trahan kita, meningkat ibadah kita, takwa kita, itulah tanda puasa kita diterima Allah. (H-3)

BERITA TERKAIT