10 May 2020, 00:10 WIB

Tarian Penyembuh


Abdillah Marzuqi | Weekend

HANYA seberkas cahaya yang ada dalam panggung. Dalam balutan cahaya yang minim itu, samar terlihat seseorang menari. Itu pun ditandai dari gerak kaki yang konstan, sementara tubuhnya bias dalam gelap.

Cukup lama ia menari, sekitar 5 menit. Penonton hanya disuguhi gerak kaki berjingkat-jingkat dalam iringan bunyi berketuk, berancak, bertiup, dan gemeretak. Karena gelap, tidak jelas dari alat musik apa suara itu berasal. Kadang terdengar pula gumam mantra yang menyelip di sela tetabuhan.

Seiring waktu, berkas cahaya mulai bersahabat. Penonton bisa melihat gerak bagian atas tubuh meski tidak secara penuh. Semua berputar dengan ritme masing-masing, dari tangan, bahu, leher, hingga kepala. Semuanya berpadu selayaknya harmoni antara ketegasan dan kelembutan.

Itu adalah bagian awal dari pentas tari berjudul Ritual in Distance; Mantra Tubuh yang ditayangkan secara daring melalui saluran Youtube Budaya Saya, pekan lalu. Karya itu merupakan garapan dari koreografer Rianto. Sebelum pentas bermula, Rianto menyapa pemirsa daring sembari memberi awalan dari karyanya.

“Nama saya Rianto. Saya berasal dari Banyumas, Indonesia. Sekarang saya berada di Tokyo, Jepang,” ucapnya.

Semakin lama, ritme gerak kaki bertambah cepat. Bunyian acak pun berganti menjadi ketukan padat. Beruntung tidak terus berada dalam gelap, masuk pada bagian berikutnya, panggung mulai terang. Bulatan besar sinar membuat penari tidak lagi tersembunyi di balik temaram. Cukup lama, hingga panggung kembali mendadak gelap. Lalu, berikutnya panggung hanya berisi teriakan dan senggakan berikut suara tetabuhan.

“Hokya, hokya, ha’e, ha’e. Sa sa, eee ha eee ho’,” ucap suara yang muncul dari arah pemusik.

Cahaya mulai menyorot ke sisi kanan panggung, tempat pemusik berada. Begitu pula dengan penari di sisi kiri. Setiap mereka punya wilayah dengan cahaya masingmasing. Hingga penari melompat dari wilayahnya. Panggung pun tiba-tiba terang. Terus saja menari hingga ia perlahan mendekat ke wilayah pemusik.

Namun, pemusik itu tampaknya tidak berkenan didekati penari. Ia menghentikan tetabuhan, mengambil jarak, sembari mengimbau penari agar mengambil jarak, aja parek-parek (jangan dekat-dekat).

“Aja parek-parek. Aja parek. Kurang adoh, uwis. Aja parek-parek. Don’t come so close. Aja parek-parek,” ucap si penabuh kendang. Penari melepas baju lalu kembali ke tengah panggung, sementara penabuh kendang tetap memperingatkan tidak dekat-dekat.

Imbauan physical distancing di tengah pandemi covid-19 menjadi pesan tersurat dari pertunjukan tersebut. Tak hanya selama dalam  panggung, penonton aslinya pun hanya 5 orang. Mereka  un ditempatkan berjarak dalam ruang pertunjukan.

“Proses ini, interaksi antara tubuh dan pemusik, itu kan juga belaku jarak. Antara tubuh dan penonton juga cuma 5 orang . Itu pun jaraknya jauh-jauh. Itu di (ruang) teater,” terang Rianto saat dihubungi Media Indonesia, Kamis (7/5).


Mantra

Rianto mengungkapkan karya itu sangat cocok dengan kondisi saat ini yakni ketika dunia sedang dilanda pandemi covid-19. Tubuh manusia dipaksa berperang dengan virus tak kasatmata. Itu artinya tubuh dituntut untuk tetap terus menjaga kekuatan spiritual dan kesehatan. Selama durasi pertunjukan 40 menit, karya tersebut banyak disisipi dengan mantra dari tari Lengger. Rianto juga menganggap tubuh sebagai mantra untuk proses penyembuhan.

“Semoga dentuman-dentuman waktu yang ditampilkan dalam karya ini bisa membuat pencerahan ataupun penyembuhan pikiran dan perasaan bagi para penonton ataupun masyarakat yang melihat pertunjukan Ritual in Distance, Mantra Tubuh,” tambahnya.

Secara sederhana, pertunjukan itu dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu tari, lari, berguling, dan interaksi. Bagian terakhir ada trans, lalu bedaya.

“Bedaya itu kita merenungi kembali dengan gerakan pelan, mengikuti alur kehidupan, terus memahami tubuh dengan Sang Pencipta,” lanjut Rianto.

Ia memaksudkan prosesi itu agar manusia bisa merasa untuk merefleksikan tubuh. Lebih melihat ke bawah, membumi, dan terus merasakan satu sama lain.

Rianto mendedikasikan karya itu untuk para pekerja seni di desa ataupun di mana saja, pekerja harian, dokter, paramedis, dan masyarakat Indonesia yang sedang bekerja dan belajar di rumah. Pekerja seni di desa mendapat perhatian tersendiri dari Rianto. Bahkan ia memberikan bantuan kepada sekitar 150 seniman di kampungnya yang terdampak pendemi covid-19. (M-4)

 

BERITA TERKAIT