09 May 2020, 07:25 WIB

Merunut Kekerabatan si Virus Mahkota


( Ferdian Ananda Majni/H-2) | Humaniora

UNTUK pertama kalinya, Indonesia berhasil memetakan genom tiga isolat virus SARS-CoV-2 ( coronavirus) penyebab covid-19 sebagai salah satu tahapan dalam meneliti epidemiologi (bagaimana virus berevolusi dan menyebar),mengembangkan vaksin, dan membuat antivirusnya.

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman mengumumkan data sekuens genom tersebut lewat platform Global Initiative on Sharing All Infl uenza Data (GISAID). Database daring ini menyimpan lebih dari 16.000 data virus korona yang berhasil diurutkan ilmuwan di seluruh dunia.

Dari GISAID, diperoleh informasi bahwa mereka terdiri atas pasien laki-laki berusia 68 tahun, laki-laki (57), dan perempuan (29). Semua pasien berasal dari Jakarta. "Genom tiga isolat virus itu berasal dari tiga pasien terkonfi rmasi positif covid-19 di Indonesia. Kami ambil sampel ini dari hasil PCR pasien yang viral load-nya (jumlah virusnya) tinggi untuk memudahkan proses," terang Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Prof Amin Soebandrio, belum lama ini.

Awalnya, Eijkman mengumpulkan ribuan sampel kasus infeksi virus korona, lalu sampel positif yang mengandung virus paling tinggi dipilih untuk diurutkan tanpa harus melakukan teknik kultur virus. "Untuk dasar menentukan antigen mana dari virus itu yang paling sesuai, paling cocok, dan dijadikan calon antigen atau dijadikan calon vaksin," sebutnya.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro menyampaikan pengiriman sampel ke GISAID diperlukan untuk mengetahui apakah virus korona di Indonesia memiliki kekerabatan yang sama dengan virus dari negara lain.

Saat ini, GISAID sudah mengidentifikasi tiga tipe covid-19 di dunia, yaitu tipe S, tipe G, dan tipe V. Namun, tiga isolat virus SARS-CoV-2 asal Indonesia rupanya tidak termasuk dalam tiga tipe itu. "Disebut sebagai tipe lain, jadi yang belum teridentifikasi," kata Bambang saat rapat bersama DPR, Selasa (5/5).

Sejumlah peneliti menduga tipe virus korona SARS-CoV-2 di Indonesia memiliki kesamaan dengan yang ada di Jepang, Asia Tengah, dan Amerika Serikat. Namun, itu masih perlu dipastikan lagi sebab pengirim an sampel genom tiga isolat saja belum cukup. Di Tiongkok, Xiaolu Tang dari Universitas Peking di Beijing, Tiongkok, bersama para kolega mempelajari genom viral dari 103 kasus di Tiongkok. Sebanyak 29 dikelompokan jadi tipe S dan 72 kasus digolongkan tipe L yang menular lebih agresif. ( Ferdian Ananda Majni/H-2)

BERITA TERKAIT