09 May 2020, 07:15 WIB

Titik Panas Turun Signifikan


(Fer/H-1) | Humaniora

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kementerian LHK) mencatat penurunan titik panas (hotspot)  dalam periode 1 Januari hingga 7 Mei 2020 jika dibandingkan dengan di tahun lalu. Meski demikian, diakui juga masih ditemukan wilayah yang terus mengalami kebakaran hutan dan lahan ( karhutla) dari 2015 sampai saat ini.

Menurut data yang didapat dari pantauan NOAA, dari Januari hingga awal Mei 2020 terdapat 25 hotspot ketimbang sebanyak 420 hotspot dalam periode yang sama pada 2019. "Dari hasil pengamatan hotspot dibandingkan pada periode yang sama Januari sampai 7 Mei memang ada penurunan berdasarkan Terra Aqua sebesar 37,4%. Sedangkan berdasarkan NOAA, ada pengurangan 94,05% yang kami pantau berdasarkan satelit dengan confidence level 80%," kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan KLHK Basar Manullang dalam konferensi pers secara daring yang diselenggarakan BNPB di Jakarta, kemarin.

Upaya pencegahan karhutla di masa pandemi covid-19 tetap dilaksanakan dengan meningkatkan partisipasi aktif dari berbagai pihak. Upaya itu antara lain pelaksanaan kegiatan pengawasan hotspot lewat satelit, pemeriksaan di lapangan berdasarkan info dari masyarakat, pemadaman darat dan udara sedini mungkin, serta pemantauan kesehatan petugas pemadaman.

Selain itu, sudah dilakukan juga penggunaan teknologi modifikasi cuaca (TMC) hujan buatan yang dilaksanakan di Riau dan menyusul dilakukan di Jambi. Berbagai upaya penegakan hukum terkait kasus karhutla juga terus dilakukan.

Namun, KLHK masih melihat terdapat beberapa klaster daerah di provinsi rawan karhutla yang terus terbakar sejak 2015 hingga saat ini. Basar mengatakan di Riau terdapat 9 klaster yang terus mengalami kebakaran berulang, Jambi dan Sumatra Selatan terdapat 8 klaster. Sementara itu, di Kalimantan Barat, terdapat 4 klaster, Kalimantan Tengah 8 klaster kebanyakan di lahan gambut, Kalimantan Selatan dengan 6 klaster dan Kalimantan Timur 4 klaster. (Fer/H-1)

BERITA TERKAIT