09 May 2020, 07:00 WIB

Boyong Dunia Usaha ke Sekolah


FERDIAN ANANDA MAJNI | Humaniora

PENGEMBANGAN pendidikan vokasi ke depan hanya bisa dilaksanakan dengan mengoptimalkan imple mentasi program link and match. Pihak industri harus dibawa ke sekolah atau kampus untuk mempercepat anak didik memahami dunia kerja. Penegasan tersebut dikemukakan Dirjen Pendidikan Vokasi Kemendikbud, Wikan Sakarinto, yang baru saja dilantik Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim, kemarin.

Ia mengakui gagasan dan penguatan program link and match antara dunia pendidikan vokasi dan industri memang bukan hal baru. Hanya saja, dalam implementasinya belum optimal. Menurut Wikan, jika link and match dilakukan dengan komprehensif, pihak industri akan mendapat keuntungan dengan meningkatnya kualitas lulusan pendidikan vokasi yang sesuai dengan kebutuhannya.

"Bring industries to school and campuss akan membuat siswa dan mahasiswa lebih cepat memahami dunia kerja sehingga diharapkan biaya yang dikeluarkan industri untuk men-training karyawan atau pegawai baru bisa ditekan jauh lebih rendah," papar Wikan. Dengan begitu, ia berharap 'perkawinan' antara pendidikan vokasi dan industri akan meningkatkan produktivitas dan menghadirkan inovasi-inovasi baru.

Karena itu, industri pun akan lebih survive dan berkembang lebih baik. "Jadi, mari kita semua, dunia pendidikan dan DUDI (Dunia usaha dan dunia industri) dapat bersama-sama 'memasak' dan menciptakan SDM unggul tersebut," imbuh Wikan, mantan Dekan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada.

Pendidikan vokasi, menurut Wikan, juga harus mampu berkolaborasi dengan pendidikan akademik dan profesi. Tujuannya untuk menghasilkan riset terapan yang dapat dihilirisasi menjadi produk nyata. Mendikbud, kemarin, melantik beberapa pejabat tinggi madya secara daring. Pelantikan dari pejabat tinggi di lingkungan internal Kemendikbud hingga anggota lembaga sensor film.

Dirjen GTK

Acara pelantikan, kemarin, menyedot perhatian banyak pihak yang ditujukan kepada Staf Khusus Bidang Pembelajaran Mendikbud, Iwan Syahril, menjadi Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK)

Kemendikbud. Nadiem juga melantik ulang sejumlah pejabat yang sebelumnya sudah dilantik, yakni Sekjen Kemendikbud Ainun Naim, Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Irjen Kemendikbud Muchlis Rantoni Luddin, dan Chatarina Maulina Girsang sebagai Staf Ahli Mendikbud bidang Regulasi Pendidikan dan Kebudayaan.

Pada kesempatan berbeda, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muhammad Ramli Rahim, kemarin, meminta Dirjen GTK yang baru dilantik segera menuntaskan persoalan guru honorer. "Dirjen GTK seharusnya menjamin bahwa tak ada lagi guru di seluruh Indonesia apa pun statusnya yang mendapatkan upah di bawah upah minimum regional," kata Ramli.

(AT/H-1)

BERITA TERKAIT