09 May 2020, 06:45 WIB

Orang Kafir Menutupi Kebenaran


(Ifa/H-1) | Ramadan

 KALI ini kita membahas surah ke-47, Surah Muhammad. Surah ini diawali dengan ayat yang berbunyi allazina kafaru wasaddu an sabilillahi adalla amalahum.

Orang-orang kafir yang menghalangi dirinya dan orang lain untuk menempuh jalan Allah, Allah menyesatkan amal-amal mereka. Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi dan dipahami menyoal ayat di atas. Pertama, allazina kafaru. Kafar itu artinya menutup. Yang menutup kebenaran. Ada istilah Alquran yang sering kali orang tidak memperhatikan itu, tetapi ulama-ulama yang pakar memperhatikannya. Kalau Alquran berkata al-kafi run, allazina kafaru, yang dimaksud ialah orang-orang musyrik, orang-orang yang mempersekutukan Allah.

Oleh karena itu, orang Yahudi dan Nasrani tidak dinamai orang kafir. Mereka digelari dengan ahlul kitab, pemilik kitab suci. Sejak semula, Alquran sudah membedakan antara orang-orang yang mempersekutukan Allah dan ahlul kitab. Mereka itu percaya Tuhan. Mereka punya kitab suci meskipun terdapat perbedaan menyangkut kitab sucinya. Karena mereka percaya pada Allah, mereka tidak dinamai orang kafir, mereka punya kedudukan.

Oleh karena itu, misalnya, Islam membenarkan memakan makanan sembelihan ahlul kitab. Makanan atau sembelihan ahlul kitab, orang Yahudi, dan Nasrani selama binatang itu binatang halal, boleh dimakan. Oleh karena itu, perempuan-perempuannya juga boleh dinikahi. Muslim boleh menikah dengan perempuan-perempuan ahlul kitab.

Di sisi lain, Alquran menggunakan kata ini untuk semua yang menutup. Contohnya orang yang menutup sakunya, tidak mau mengeluarkan uangnya (untuk bersedekah), dinamai kafir. Petani yang menanam benih lalu menutupnya, itu kafir. Orang-orang yang menutupi kebenaran, puncaknya ialah musyrik, menghalangi dirinya dan orang lain menempuh jalan Allah.

Orang-orang kafir yang akidahnya salah lalu menghalangi orang melakukan kebaikan, maka amal-amal baiknya pun tidak mencapai arah yang benar, tidak mendapat ganjaran. Pada ayat berikutnya dikatakan, wallazina amanu wa amilussalihati wa amanu bima nuzzila ala muhammadiw wa huwalhaqqu mir rabbihim, kaffara anhum sayyiatihim wa aslaha balahum.

Adapun orang-orang yang beriman, beramal saleh, percaya kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan itu ialah kebenaran. Maka, Allah mentupi kesalahan-kesalahan mereka dan menjadikan pikiran dan hati mereka lurus, tenang, dan cerah. Ada ayat yang menyatakan bahwa orang-orang yang berdosa terancam dengan siksa, kecuali yang bertobat, percaya, dan beramal saleh. Mereka itu yang akan diganti amal buruknya menjadi amal kebaikan.

Suatu ketika ada orang bergelimang dosa datang minta pada Nabi, "Jatuhi saya sanksi." Nabi berkata, "Bukankah kamu tadi sudah salat dengan kita?" Terhapuslah dosanya. Mengapa terjadi perbedaan antara hasil yang diperoleh orang kafi r dan hasil yang diperoleh orang yang beriman? Dalam hal ini, hasil yang diperoleh orang kafir pekerjaannya tidak mencapai sasaran yang sebenarnya, hatinya kacau, sedangkan orang beriman hatinya tenang.

Kalau bersungguh-sungguh ingin mengikuti kebenaran, Tuhan memberikan Anda petunjuk sehingga hati Anda tenang dan pekerjaan Anda bisa menjadi lurus. (Ifa/H-1)

BERITA TERKAIT