09 May 2020, 06:10 WIB

Hikmah Nuzululquran


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

ALQURAN kitab suci untuk akhir zaman. Adalah wajar jika Alquran tidak akan pernah berhenti dikaji berbagai kalangan. Semakin dikaji selalu saja ada sesuatu yang baru dari dalamnya.

Ini suatu bukti bahwa Alquran ialah firman Allah yang diturunkan bukan hanya pada masyarakat tempat dan di mana Alquran itu diturunkan, melainkan juga untuk manusia dalam lintasan sejarah.

Sebagai kitab suci terakhir dalam keyakinan umat Islam, Alquran memang dituntut untuk mengaktualisasikan diri, kapan pun dan di mana pun. Nilai-nilai Alquran harus dapat menerobos zaman, menembus lapisan-lapisan kultural, dan melintasi wilayah-wilayah geografis.

Alquran yang didukung pribadi agung Rasulullah SAW berhasil melakukan transformasi sosial dari masyarakat jahiliah menuju masyarakat cerdas dan terampil. Dari masyarakat yang berkeadaban rendah (badawa) menuju masyarakat yang berkeadaban lebih tinggi (madani).

Dari masyarakat yang sama sekali tidak pernah diperhitungkan secara internasional dan regional menjadi masyarakat penentu kecenderungan masa depan (trend setter) di kawasan itu. Alquran tidak diturunkan di dalam masyarakat yang hampa budaya, tetapi turun di dalam masyarakat yang sudah sarat dengan nilai-nilai budaya lokal.

Kehadiran Alquran sebagai petunjuk tidak serta-merta melakukan pembersihan dan penggusuran terhadap berbagai nilai yang datang sebelumnya. Alquran membutuhkan waktu 23 tahun untuk melakukan enkulturasi dan reformasi secara gradual.

Hal itu dikenal dengan tiga prinsip dasar (usus al-tasyri’), yaitu 1) berangsur-angsur dalam penerapan tata-nilai (al-tadrij fi al-tasyri’); 2) penyederhanaan beban (al-taqlil al-taklif); dan 3) meminimalkan kesulitan (’adam al-haraj).

Adres utama dan pertama Alquran ialah masyarakat Arab yang dilukiskan Alquran sebagai bangsa paling kufur dan munafik (al-a’rab asydd kufran wa nifaqa/QS al-Taubah/9:97).

Mereka dikenal sebagai bangsa yang doyan dengan minuman keras dan untuk menghapuskannya diperlukan 4 ayat turun secara bertahap untuk sampai kepada penghapusan total: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji, termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS al-Maidah/5:90).

Mereka juga gemar dengan sistem pembungaan uang alias rentenir dan untuk menghapuskannya diperlukan tujuh ayat turun secara bertahap untuk sampai kepada penghapusan total: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS Ali’Imran/3:130).

Kiranya kenyataan ini menjadi pelajaran penting bagi kita bahwa betapa pun mulianya sebuah perubahan yang dituju tetap membutuhkan
waktu, kesabaran, strategi, dan rambu-rambu yang akan memandu agar arah perubahan itu tidak melenceng dari tujuan semula.

Rasulullah membutuhkan waktu 11 tahun dalam mewujudkan masyarakat madani di Madinah dengan penuh ketabahan. Seorang reformer atau pembaharu sejati tidak akan pernah menyalahkan keadaan atau menekankan kesalahan dan kelemahan orang lain, tetapi bagaimana
mengubah keadaan menjadi lebih baik.

Demikianlah prinsip yang membuat Rasulullah sukses di dalam melewati masa-masa sulitnya.

BERITA TERKAIT