09 May 2020, 01:50 WIB

Puluhan Ribu Pekerja di Sumut Kehilangan Pekerjaan Akibat Korona


Yoseph Pencawan | Nusantara

DINAS Tenaga Kerja Sumatera Utara (Sumut) mencatat sedikitnya 14 ribu orang karyawan di provinsinya terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) sebagai dampak dari pandemi Covid-19. Pekerja yang terkena PHK tersebut berasal dari 283 perusahaan.

Para pekerja yang mengalami PHK diminta segera mendaftarkan diri untuk mendapatkan Kartu Pra Kerja dari pemerintah pusat. Dalam program ini Sumut memiliki kuota sebanyak 183.904 orang. "Kartu Pra Kerja ini dapat diperoleh dengan mendaftar secara online," ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Sumut Harianto Butarbutar, Jumat (8/5).

Bagi yang merasa kesulitan atau tidak memahami tata cara untuk mendaftar, mereka dipersilahkan Harianto untuk menghubungi Kantor DisnakerKabupaten/Kota atau provinsi. Dia memastikan pihak Disnaker akan memandu proses pendaftaran tersebut.

Harianto juga meminta seluruh perusahaan untuk dapat menjalankan aturan yang sudah digariskan pemerintah mengenai pemenuhan Tunjangan Hari Raya (THR). Dengan kondisi saat ini, bila perusahaan memiliki masalah keuangan untuk memenuhinya dia menyarankan agar berdialog dan menjalin kesepakatan dengan para pekerjanya.

"Namun bagi perusahaan-perusahaan yang masih eksis dan tidak terdampak Covid-19 atau industri-industri yang masih tetap berjalan dengan baik, kami imbau THR bisa disalurkan sesuai dengan aturan dan ketentuan," tegasnya.

Lebih jauh, Harianto mengatakan perusahaan yang melakukana PHK terhadap karyawannya ini sebagian besar bergerak di sektor pariwisata, khususnya perhotelan dan biro perjalanan. Perusahaan-perusahaan terpaksa mengambil kebijakan PHK karena merosotnya pendapatan akibat pandemi Covid-19. Bisnis perhotelan misalnya, yang sepanjang masa darurat berlangsung tingkat okupansi hanya di bawah 5 persen.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sumut Denny Wardhana menyebutkan pandemi korona bahkan telah mengakibatkan banyak hotel menghentikan operasionalnya. Hal yang sama juga dialami usaha biro perjalanan yang kehilangan hampir seluruh pemesanan paket wisata. (R-1)

BERITA TERKAIT