08 May 2020, 18:40 WIB

Umat Diminta Disiplin Taati MUI dan Pemerintah soal Covid-19


Antara | Nusantara

MESKI dalam suasana pandemi akibat virus korona atau covid-19 yang terjadi saat ini, sejatinya masyarakat menjalani ibadah puasa ini  harus tetap waspada dan berhati-hati, tidak panik, dan tidak pula meremehkan dan mengentengkannya.

Selama berpuasa, masyarakat harus tetap disiplin dan bersama-sama melawan virus korona ini dan memutus mata rantai penyebarannya. Oleh karena itu, terus disiplin mengikuti aturan pemerintah, protokol kesehatan dalam bekerja dari rumah senantiasa selalu diperhatikan.

“Tentunya kami meminta agar masyarakat untuk tetap mengikuti dan mantaati himbauan yang dikeluarkan pemerintah serta fatwa dan tausiyah dari MUI untuk tetap berada dan bekerja dari rumah,” ujar Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palangka Raya, Dr H Khairil Anwar MAg, di Palangkaraya, Kamis (7/5).

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kalimantan Tengah ini juga meyampaikan hal tersebut agar di kawasan yang berzona merah menghidari salat berjemaah di masjid dan dialihkan dengan salat di rumah untuk sementara waktu bersama dengan keluarganya.

“Di kawasan yang berzona merah, sebaiknya salat Jumat di masjid bisa diganti dengan salat zuhur di rumah. Begitu pula salat tarawih dan tadarus Alquran, buka puasa bersama, dan salat Idul Fitri untuk sementara dilaksanakan di rumah saja. Yakinlah, bahwa sepanjang kita disiplin dan penuh kebersamaan mentaati perintah ulil amri (pemerintah dan ulama), pencegahan tersebarnya korona akan cepat berhasil,” imbuhnya.

Meskipun dalam masa pandemi, Khairil menyampaikan agar umat Islam senantiasa untuk tetap ikhas, bersyukur, dan bersabar dalam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan ini.

“Ikhlas menjalani ibadah puasa di tengah pademi covid-19 karena musibah ini sejatinya datangnya dari Allah SWT. Syukur terhadap nikmat yang diberikan kepada kita, seperti nikmat kesehatan dalam beribadah selama ini. Sabar terhadap musibah korona yang melanda umat manusia dan bangsa Indonesia. Yakinlah bahwa musibah ini adalah ujian bagi kita  orang yang beriman,” tuturnya.

 

Baca juga: Ferdian Paleka Ditangkap, Transpuan Kirim Bunga ke Mapolresta

 

Selain itu, menurut pria yang merupakan dosen jurusan Syariah dengan keahlian Aqidah Filsafat ini,  kebersamaan dan gotong royong juga dapat diwujudkan untuk bersama-sama menghadapi pandemi ini dengan melakukan berbagi dan menolong antarsesama.

“Orang yang kaya membantu dengan kekayaannya. Orang yang berilmu, cerdik cendekia membantu dengan ilmunya. Ulama membantu dengan nasihat dan ceramahnya yang menyejukkan. Dokter dan para medis membantu dengan ilmu medisnya. Orang yang sehat membantu membentuk sukarelawan dan membantu dengan tenaganya,” terang pria yang juga  Ketua Umum Badan Pengelola dan Imam Masjid Raya Darussalam (Islamic Center) Palangkaraya ini.  

Bahkan. menurut dia, masyarakat biasa sekali pun bisa membantu dengan cukup tinggal di rumah saja mengikuti imbauan pemerintah dan MUI. Karena semua unsur masyarakat sejatinya harus bekerjasama dan bahu membahu dalam melawan virus korona ini.

Lebih lanjut pria yang juga menjabat sebagai Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Provinsi Kalteng ini juga mengungkapkan perlunya peran para tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk menguatkan jiwa dan hati masyarakat di bulan Ramadan ini. Hal ini agar masyarakat mau mengikuti anjuran pemerintah.

“Tokoh masyarakat dan pemuka agama perlu melakukan ceramah dan imbauan di media sosial agar masyarakat mengikuti aturan pemerintah pusat dan daerah dan bahwa aturan itu adalah demi untuk kemaslahatan bersama. Karena pesan Alquran, janganlah kamu mencelakakan nyawamu dalam kebinasaan dan pesan Nabi juga janganlah kita terkena mudarat dan memudaratkan orang lain,”  ujarnya.

Karena, menurut Khairil, pesan-pesan seperti inilah yang tentunya harus disampaikan di tengah masyarakat.  Bahkan kalau perlu mengajak masyarakat, takmir masjid atau jemaah masjid yang masih 'ngeyel' melaksanakan salat Jumat di zona merah untuk bisa memahami dan mengerti dengan penuh kesadaran.

“Yang tidak kalah pentingnya adalah imbauan untuk berbagi dengan sesama, lewat pemberian zakat fitrah yang didahulukan, zakat harta yang dibolehkan dibayarkan lebih dulu sepanjang nisabnya sudah sampai. Lebih dari itu, mengajak masyarakat yang berkecukupan untuk membayarkan infaq dan sedekah, terutama kepada masyarakat miskin,” ucapnya.

Khairil juga menyarankan agar pemerintah dan dinas kesehatan sebaiknya bermusyawarah dengan para ulama yang tergabung dalam MUI, NU, Muhammadiyah dan juga takmir masjid agar dapat bersama-sama menetapkan mana kawasan atau masjid yang dilarang melaksanakan salat berjemaah dan mana yang boleh.

“Hemat saya, selama ini penetapan zona merah per-kabupaten atau per-kota masih tidak selaran dengan penetapan fatwa MUI dengan istilah kawasan tidakterkendali. Apakah kawasan itu dalam satu desa, kecamatan, atau kabupaten/kota. Di sini perlu duduk bersama dan bermusyawarah untuk memutuskan secara bersama,” ujarnya.

Terakhir, dia juga mengimbau kepada seluruh masyarakat agar untuk tetap menjaga kerukunan dan kedamaian di tengah pandemi ini.

“Masyarakat harus bisa menahan diri dan jangan mudah terporvokasi atas ajakan-ajakan yang dapat merugikan bangsa ini. Mari bersama-sama menjaga kerukunan demi terciptanya kedamaian di negeri ini,” pungkasnya. (OL-15)

BERITA TERKAIT