08 May 2020, 23:19 WIB

Warga Desa Woedoda Terpaksa Makan Ubi Pembunuh Serdadu Jepang


Ignas Kunda | Nusantara

WARGA Desa Woedoa, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) mulai rutin mengonsumsi ubi gadung atau yang dikenal dalam bahasa setempat, odo, karena menipisnya stok pangan.

Banyak warga  Desa Woedoa mengonsumsi odo yang kaya serat dan kalsium serta rendah gula ini sejak sebulan terakhir. Hanya saja, ubi ini juga dikenal mengandung racun. Mereka masuk hutan selama beberapa hari untuk menggali ubi hutan itu.

Seperti yang dialami Maksi Sela dan istrinya, Isabela Suwo, warga Kampung Boalobo, Desa Woedoa ini.

Mereka meninggalkan rumah dan menempuh perjalanan sekitar  8 km melewati hutan dan tebing curam untuk mencari ubi beracun.

Maksi mengaku rutin mencari ubi hutan beracun sebagai makanan tambahan di rumah mereka. 

Baca juga: Etu, Tinju Beringas Superioritas Lelaki Flores

Bila tahun–tahun sebelumnya ubi hanya sebagai makanan selingan, untuk tahun ini mereka harus rutin mengonsumsinya karena ketiadaan beras. “Kami sejak April mulai gali. Tahun ini seluruh masyarakat desa tetangga juga melakukan ini. Tahun sebelumnya, habis panen di kebun, lalu gali odo untuk makan. Tapi tahun ini rutin karena mau makan apa? Ini yang terbaik,” keluhnya, Jumat (8/5).

Di sisi lain, hasil panen seperti pisang, sayur-sayuran, kemiri mereka tak laku dijual untuk membeli beras. “Harga komoditas turun, sembako naik, pasar tutup orang tidak ada yang mau beli. Kami mau jual ayam, babi atau kemiri tidak bisa. Jadi daripada kami duduk saja di rumah lebih baik kami harus masuk hutan gali odo, “ kata Maksi.

Baca juga: Perjuangan Warga Kampung Wololuba Demi Air Keruh

Piter Rengga bersama istrinya, Tince, juga harus masuk hutan hanya untuk menggali ubi beracun.

Bagi Piter yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang bangunan, tahun ini adalah kali pertama mereka masuk ke hutan untuk menggali ubi beracun.

Ia terpaksa menggali karena stok beras sudah menipis  Piter mengaku selama pandemi virus korona atau covid-19, ia kehilangan pekerjaan tukang bangunan.

“Sudah hampir 3 bulan saya tidak kerja bangunan. Karena persediaan makan sudah habis, terpaksa masuk hutan. Kondisi ubi sebenarnya masih muda. Saya terakhir gali ubi hutan pada 1995 sewaktu ikut nenek. Dan baru gali lagi tahun ini lagi karena terpaksa, mau makan apa,” ungkap Piter.

Di dalam hutan mereka mencari secara berkelompok secara menyebar berjarak hingga kira-kira 1-2 km. Mereka harus berteriak saling bersahutan sebagai penanda bahawa mereka telah berada di satu lokasi pencarian.

Seusai menggali, mereka akan langsung menyimpan ke dalam karung untuk dibawa ke kampung. Setelah itu, ubi akan dikupas dan diiris tipis-tipis. Kemudian hasil irisan dicampur dengan air garam dan direndam selama semalam demi mengurangi kadar racun.

Setelah itu hasil rendaman ubi harus dibawa ke sungai yang berjarak sekitar 3 kilometer dari kampung dengan jalanan yang curam dan terjal.

Di bantaran Sungai Ada Ae warga kampung dengan kelompoknya tersendiri yang langsung mengupas dan mengiris odo lalu direndam. 

Di sungai itu, rendaman yang telah tercampur garam masih harus diendapkan ke dasar sungai selama semalam untuk membersihkan racun. Total membutuhkan 2-3 hari sampai racun odo benar-benar hilang dan siap dikonsumsi. 

Risiko keracunan berpotensi terjadi bagi mereka yang kurang teliti atau kurang baik dalam proses pengeluaran racunnya.

“Kalau iris terlalu tebal bisa buat mabuk, pusing-pusing bahkan muntah. Babi atau sapi jangan coba makan,bisa mati,“ kata Isabela.

Maksi mengisahkan dari cerita ayahnya, tentara penjajah Jepang pun tewas diracuni dengan odo ketika masuk ke kampung itu.

“Tahun 1944 masak ubi ini, kasih makan ubi beracun buat tentara Jepang semuanya mati sekitar 30-40 orang. Ada kuburan massal,” ungkap Maksi meneruskan cerita ayahnya.    

Adapun untuk memasak odo cukup dikukus sekitar 20 menit dan kemudian dicampur dengan parutan kelapa sebelum dimakan.

“Kami biasanya kasih fermentasi dahulu biar lebih enak biara agak kehitaman lalu campur dengan kelapa dan ini sangat enak, “ kata Philipus Pi, salah seorang warga. (X-15)

 

BERITA TERKAIT