08 May 2020, 20:50 WIB

Mendes: BLT Dana Desa Sudah Cair di 10 Ribu Desa


Dhika kusuma winata | Humaniora

MENTERI Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar menyampaikam penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) dari dana desa untuk penanggulangan dampak pandemi covid-19 sudah berjalan. Dia mencatat hingga saat ini bantuan tunai senilai Rp600 ribu sudah cair di 10 ribu desa.

"Yang sudah cair BLT dana desa per hari ini 10.000 desa di 80 kabupaten/kota. Kita memastikan agat BLT desa segera cair, kita berharap kepala daerah mempercepat pencairannya," kata Abdul Halim saat konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (8/5).

Mendes menyebut sejauh ini terdapat 24.309 desa yang anggarannya siap disalurkan dan datanya sudah disinkronisasi oleh pemerintah daerah. Adapun pengalihan sebagian dana desa untuk program jaring pengaman sosial tersebut ditargetkan menyasar 12,3 juta keluarga. Total anggaran bantuan tunai tersebut sebesar Rp21 triliun. Penyaluran per keluarga Rp600 ribu yang akan dibagikan selama tiga bulan hingga Juni 2020.

Adapun kriteria warga yang berhak mendapat BLT tersebut, jelas Abdul Halim, tertuang dalam Peraturan Menteri Desa (Permendes) Nomor 6 Tahun 2020. Kriteria pertama ialah warga miskin yang kehilangan sumber penghasilan akibat pandemi dan belum tersentuh bantuan pemerintah. Pembedaan itu untuk menghindari tumpang tindih penerima bantuan.

"Yang menjadi sasaran BLT dana desa adalah warga miskin yang kehilangan mata pencaharian karena covid-19 dan belum mendapat apapun dari kebijakan pemerintah. Jadi belum mendapat Program Keluarga Harapan (PKH), belum mendapat Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT atau Kartu Sembako), dan segala bentuk jaring pengaman sosial yang ada. Itu sasaran BLT Desa," jelasnya.

Kriteria lainnya, imbuh Mendes, ialah keluarga yang memiliki riwayat penyakit menahun atau penyakit kronis. Warga kategori tersebut menurutnya rentan terdampak penyakit akibat covid-19.

"Ditambahkan warga yang memiliki keluarga yang rentan memiliki penyakit menahun atau penyakit kronis. Kenapa ini dimasukkan karena kedekatan covid-19 dengan penyakit-penyakit menahun, darah tinggi, gagal ginjal, jantung, dan lainnya. Itulah makanya di dalam indikator dimasukkan sebagai salah satu faktor penerima," ucapnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT