08 May 2020, 16:45 WIB

PSBB di Sidoarjo Gagal Tekan Penyebaran Covid-19


Heri Susetyo | Nusantara

PELAKSANAAN pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur yang sudah memasuki hari ke 11 dan berakhir pada 11 Mei mendatang ternyata gagal menekan penyebaran covid-19.

Hal ini terlihat dari jumlah penyebaran pasien covid-19 di kota udang tersebut. Jumlah pasien positif covid-19 di Sidoarjo bertambah pesat setiap harinya. Data sementara hingga Jumat (8/5) jumlah pasien positif covid-19 mencapai 152 orang dan 16 di antaranya meninggal dunia. Jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) berjumlah 214 orang dan 18 di antaranya meninggal dunia. Sementara jumlah orang dalam pemantauan (ODP) mencapai 832 orang dan dua meninggal dunia.

Padahal pada 26 April 2020 atau dua hari sebelum PSBB, total pasien yang terkonfirmasi positif di kabupaten Sidoarjo baru 80 orang dengan jumlah PDP 172 orang dan jumlah ODP 662 orang.

"Target PSBB menekan penyebaran covid-19 hingga 30% sepertinya agak berat," kata Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Nur Ahmad Syaifuddin, Jumat (8/5).

Baca Juga: Penumpang MRT Positif Korona, Dinas Perhubungan DKI: Belum Dengar

Menurut Nur Ahmad, melihat semakin banyak penderita covid-19 ini, pihaknya akan melakukan rapid test lebih banyak lagi. Dan rapid test ini harus dilakukan untuk mendeteksi lebih dini agar penanganannya cepat.

"Untuk itu semua harus instropeksi, semuanya, para petugas juga demikian, masyarakat juga demikian, kita harus sadar bahwasannya ini bahaya benar-benar mengancam karena perkembangannya sangat luar biasa," kata Nur Ahmad yang juga pelaksana tugas Bupati Sidoarjo tersebut.

Salah satu rapid test dilakukan di pasar-pasar, karena di sejumlah pasar ditemukan pedagang positif terpapar virus korona. Dan setelah dilakukan rapid test, ternyata juga ada beberapa pedagang yang reaktif atau diduga terpapar virus mematikan tersebut.

Diakui Nur Ahmad, tidak mudah melakukan upaya penekanan penyebaran covid-19. Sebab upaya yang dilakukan tidak bisa menyeluruh. Seperti kasus di pasar, meskipun sudah ditemukan ada yang positif, tidak bisa serta merta melakukan penutupan pasar. Sebab roda perekonomian juga tetap harus berjalan.

Demikian pula di pabrik-pabrik tidak bisa otomatis melakukan penutupan. Bisa dilakukan penutupan apabila manajemen pabrik tetap bisa membayar gaji pekerja selama mereka dirumahkan sementara.

"Kita ingin selesai mengatasi masalah covid-19, tapi kita juga tidak ingin ekonomi menjadi ambruk, ya, itu masalahnya," tegas Nur Ahmad.

Nur Ahmad juga belum bisa memastikan apakah PSBB di Sidoarjo diperpanjang atau tidak. Sebab hal itu juga harus dibicarakan dulu dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. (OL-13)

Baca Juga: Citilink Batalkan Penerbangan Jakarta-Solo-Jakarta

 

BERITA TERKAIT