08 May 2020, 15:21 WIB

Terancam Punah, Perdagangan Trenggiling Masih Marak di Facebook


Fahturrozak | Weekend

 

LAPORAN Tech Transparency Project (TTP) mengidentifikasi beberapa halaman publik di Facebook yang dibuat dalam beberapa bulan terakhir, menawarkan trenggiling dan bagian tubuh mereka untuk dijual. TTP adalah lembaga penelitian yang menjadi bagian dari Kampanye untuk Pengawas Akuntabilitas nonpartisan.  

Sementara laporan Komisi Keadilan Satwa Liar tahun ini menyebutkan, sekitar 27 negara dan wilayah diidentifikasi sebagai sumber, transit, dan tujuan perdagangan trenggiling.

Trenggiling menjadi hewan yang paling banyak diperdagangkan di dunia. Kedelapan spesies trenggiling, dilindungi oleh hukum nasional dan internasional. Dua spesies trenggiling, masuk dalam kategori daftar merah terancam punah di International Union for Conservation of Nature.

Di Facebook dengan pencarian kata-kata sederhana dalam bahasa Inggris dan Vietnam, perdagangan hewan ini mudah ditemukan. Salah satu laman bernama "sisik Trenggiling untuk dijual di Vietnam" dibuat pada 31 Januari 2020. "Cula badak dan sisik trenggiling untuk dijual di Tiongkok" muncul pada 17 Maret, dan sehari kemudian, muncul laman bernama "Trenggiling."

Pada laman “skala Trenggiling untuk dijual di Vietnam,” pihak yang berminat diarahkan untuk menghubungi penjual melalui email atau WhatsApp. Laman-laman dalam bahasa Inggris diyakini telah dihapus oleh Facebook setelah pihak Facebook dihubungi reporter Buzzfeed News. Salah satu iklan dalam unggahan salah seorang pengguna Facebook yang berasal dari Vietnam, bahkan masih aktif hingga hari ini. Dalam unggahannya, tertulis “Sisik trenggiling. Sangat bagus untuk perempuan hamil dan ibu baru.”

“Facebook mengklaim bahwa mereka melarang penjualan hewan langka atau terancam di platform mereka, tetapi trenggiling dengan mudah tersedia bagi siapa saja yang mencari hewan tersebut. Ini adalah contoh lain dari kegagalan Facebook untuk menegakkan aturannya sendiri di seluruh platformnya,” papar Direktur eksekutif TTP Daniel E Stevens, dikutip dari The Independent.

Lebih dari satu juta trenggiling yang berasal dari Asia dan Afrika, diperdagangkan dalam satu dekade terakhir. Trenggiling diburu untuk diambil dagingnya. Sementara sisiknya semakin berharga dimanfaatkan sebagai obat-obatan tradisional dan asesoris. Situasi ini dapat menghancurkan populasi Trenggiling.

Akhir Mei tahun lalu, Tim dari Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berhasil mengungkap perdagangan spesies trenggiling Manis javanica di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah.

Sejak 2018, Facebook sudah bermitra dengan WWF untuk mengakhiri perdagangan satwa liar. Kerja sama itu bertujuan untuk mengurangi 80% perdagangan lintas platform teknologi pada tahun ini. Perdagangan spesies langka telah ditemukan di Facebook sebelumnya.

Jaringan pemantauan perdagangan satwa liar, Traffic, pada tahun lalu melaporkan perdagangan ilegal secara daring terjadi pada spesies burung rangkong di jejaring sosial di Thailand. Sembilan spesies burung enggang dilindungi di bawah Convention on International Trade in Endangered Wild Flora and Fauna (CITES). Dalam laporan tersebut, Traffic menemukan dalam periode enam bulan, ada 236 unggahan Facebook menawarkan minimal 546 bagian dan produk rangkong. (M-4)

BERITA TERKAIT