08 May 2020, 11:53 WIB

WHO: 190.000 Orang Bisa Meninggal di Afrika Akibat Covid-19


Nur Aivanni | Internasional

ORGANISASI Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan, pada Kamis (7/5), bahwa hingga 190.000 orang di Afrika bisa meninggal karena virus korona baru atau covid-19 pada tahun pertama pandemi jika langkah-langkah pengendalian yang dilakukan gagal.

Badan kesehatan PBB itu mengutip sebuah studi baru oleh kantor regionalnya di Brazzaville yang menemukan bahwa antara 83.000 dan 190.000 orang bisa meninggal dan 29 hingga 44 juta terinfeksi selama periode itu.

Dalam sebuah pernyataan, WHO mengatakan penelitian itu didasarkan pada pemodelan prediksi dan mencakup 47 negara dengan total populasi satu miliar.

Para ahli secara konsisten memperingatkan bahwa Afrika sangat rentan terhadap wabah, karena infrastruktur kesehatan yang lemah, tingkat kemiskinan yang tinggi, banyak konflik yang bergejolak dan kerentanan yang terbukti terhadap epidemi sebelumnya.

Tetapi virus ini lambat menyebar di seluruh benua, yang belum mencatat peningkatan jumlah infeksi atau kematian seperti di Eropa, Amerika Serikat dan di tempat lain.

"Model ini memprediksi tingkat penularan yang diamati lebih lambat, usia yang lebih rendah dari orang dengan penyakit parah dan tingkat kematian yang lebih rendah dibandingkan dengan yang terlihat di negara-negara yang paling terkena dampak di seluruh dunia," bunyi pernyataan tersebut.

"Namun, tingkat penularan yang lebih rendah menunjukkan wabah yang lebih lama selama beberapa tahun," kata pernyataan itu.

Baca juga: Pusat Perbelanjaan di Denmark Boleh Kembali Buka

Direktur Regional WHO untuk Afrika Matshidiso Moeti mengatakan bahwa sementara covid-19 kemungkinan tidak akan menyebar secara eksponensial di Afrika seperti di tempat lain di dunia, ia kemungkinan akan menyala di hotspot penularan.

"Covid-19 dapat menjadi elemen dalam kehidupan kita selama beberapa tahun ke depan kecuali jika pendekatan proaktif diambil oleh banyak pemerintah di kawasan ini," tambahnya. 

"Kita perlu menguji, melacak, mengisolasi, dan merawat," ucapnya.

Negara-negara yang lebih kecil seperti Aljazair, Afrika Selatan dan Kamerun, kata WHO, berisiko sangat tinggi kecuali langkah-langkah pengendalian yang efektif berlaku.

Afrika sejauh ini telah mencatat 53.334 kasus dan 2.065 kematian, menurut hitungan AFP.

Beberapa negara telah menerapkan tindakan pengurungan atau penguncian wilayah, tetapi yang lain belum dan beberapa mempertimbangkan untuk mencabut pembatasan.

Nigeria mencabut penguncian wilayah di kota terpadat di Afrika, Lagos, awal pekan ini, sementara Afrika Selatan mulai mengurangi langkah-langkahnya pekan lalu. (AFP/A-2)

BERITA TERKAIT