08 May 2020, 06:45 WIB

Petani Tangkal Ancaman Krisis Pangan


MI | Nusantara

BERAGAM cara daerah menjawab ancaman krisis pangan di tengah pandemi. Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, misalnya memilih upaya meningkatkan produksi pangan dengan mempercepat masa tanam.

"Saat ini sudah mau masuk musim kemarau. Kami mendorong petani segera menanam guna menghindari kekeringan," kata Kepala Bidang Pertanian Tanaman pangan, Ermawati Syahyuni, kemarin. Menurut dia, target luas tanam tahun ini mencapai 60 ribu hektare (ha) dari luas total 66,5 ribu ha.

"Semua lahan nyaris sudah panen. Untuk itu, kami meminta petani segera mengolah sawah lagi." Dorongan itu sudah membuahkan hasil. Dari luas lahan, sudah 24 ribu ha di antaranya yang sudah ditanami lagi. Penanaman lebih awal ini sudah dilakukan petani di daerah aliran Sungai Serayu.

Kegigihan petani juga diimbangi kerja keras Bulog. Di wilayah Surakarta, Jawa Tengah, penyerapan beras terus dilakukan di enam daerah, yakni Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Wonogiri, Sragen, dan Karanganyar. Kepala Bulog Imam Firdaus Jamal mengaku harus bekerja keras untuk memenuhi stok cadangan beras pemerintah. "Untuk itu, kami terus mendorong mitra kerja penggilingan guna meningkatkan produksi serta menerjunkan satuan kerja pengadaan ke lapangan."

Selain beras, Bulog Surakarta juga terus meningkatkan stok minyak goreng dan gula pasir. "Dalam masa pandemi, kami juga menyiapkan paket sembako Lebaran untuk dibagikan ke masyarakat terdampak," lanjut Imam. Stok yang mencukupi dan permintaan yang menurun, membuat harga bahan pokok tidak bergejolak di tengah deraan wabah. Di Pasar Pembangunan Pangkalpinang,

Bangka Belitung, harga semua komoditas pertanian masih stabil. Kondisi serupa juga dilaporkan di Klaten, Jawa Tengah. "Harga semua jenis cabai justru turun. Kenaikan harga hanya terjadi pada bawang merah, dari Rp40 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram," jelas Maryati, 48, pedagang di Pasar Gede Klaten.

Terjadinya panen raya serentak di wilayah Priangan Timur, Jawa Barat, justru membuat harga gabah menurun. Gabah kering giling di Tasikmalaya, Ciamis, Garut, dan Banjar, turun harga dari sebelumnya Rp6.000 menjadi Rp5.500 per kilogram. Sementara itu, gabah kering panen juga turun dari Rp4.500 menjadi Rp4.000. (LD/WJ/ RF/JS/AD/YH/FB/N-2)

BERITA TERKAIT