08 May 2020, 06:10 WIB

Belajar dari Kearifan Nabi Muhammad (2)


Nasaruddin Umar Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta | Renungan Ramadan

DALAM kitab Shahih Bukhari dikisahkan bahwa ketika Rasulullah memimpin delegasi dalam perjanjian Hudaibiyah, beliau menerima usulan Suhail, pemimpin delegasi kafir Quraisy dan merelakan penghapusan dua poin penting dalam naskah perjanjian, yaitu poin pembuka dan penutup perjanjian.

Lafal Bismillahirrahmanirrahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang) diganti dengan Bismikallahumma (Dengan nama Tuhan). Pun lafal Hadza ma qadha ’alaihi Muhammad rasulullah (sebagaimana telah diputuskan oleh Muhammad SAW), menjadi Hadza maqadha ’alaihi Muhammad ibn ’Abdillah (sebagaimana telah diputuskan Muhammad ibn Abdullah); sungguh pun para sahabat Rasulullah berkeberatan dengan penghapusan redaksi-redaksi tersebut.

Hal itu mengisyaratkan kepada kita bahwa perdamaian dan kebersamaan lebih penting ketimbang persoalan redaksional. Efisiensi dan efektivitas kerja merupakan bagian dari pesan Iqra’. Tidak heran kalau misi yang diemban Rasulullah dilakukan dengan penuh pertimbangan
efisiensi dan efektivitas.

Sebagai contoh, pemanfaatan space masjid pada masa Nabi (Masjid Nabawi) betul-betul multiguna. Selain sebagai tempat ibadah, masjid Nabi itu digunakan sebagai tempat konsultasi dan musyawarah dalam berbagai urusan.

Masjid tempat penyampaian informasi publik, tempat penyelenggaraan pendidikan, tempat pelaksanaan santunan sosial, tempat perawatan
para korban perang, serta tempat latihan militer dan bela diri.

Masjid pun menjadi tempat penampungan pengungsi dan tawanan perang, juga tempat menjamu tamutamu kehormatan.

Bahkan, dalam hadis Bukhari di sebutkan pula bahwa masjid Nabi pernah digunakan untuk mengekspresikan seni, sebagaimana Rasulullah pernah menyaksikan penampilan kelompok seniman dari Habasyah.

Menara masjid tidak hanya digunakan Bilal mengumandangkan azan, tetapi juga menjadi sarana kontrol sosial untuk mengawasi dari ketinggian; rumah-rumah mana yang dapurnya tidak pernah berasap dan rumah-rumah mana yang dapurnya selalu berasap.

Jadi, menara masjid bukan hanya simbol gagah-gagahan untuk melengkapi kemewahan sebuah masjid, tetapi juga berfungsi sebagai kontrol sosial dan kekuatan pemersatu umat.

Terhadap masjid yang tidak efektif, apalagi kalau masjid itu nyata-nyata menjadi sumber keresahan umat, Rasulullah SAW tidak segan-segan menghancurkannya.

Contohnya kasus pembakaran Masjid Dhirar di Zu Awan yang dibangun orang-orang munafik di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Abi Salul untuk mengajarkan ajaran sesat guna memecah belah umat Islam. Peristiwa ini diabadikan dalam QS al-Taubah/9:108.

Fakta-fakta kebijakan Nabi tersebut di atas menunjukkan betapa mulia dan agungnya beliau di dalam menyikapi situasi sulit yang dihadapinya. Dia menampilkan diri sebagai ‘orang dekat’ terhadap berbagai kelompok dan lapisan masyarakatnya.

Wajar jika Michel Hart menempatkannya sebagai the best di antara 100 tokoh yang pernah lahir di muka bumi ini. Atau lebih terbatas lagi,
Thomas Carlile menempatkannya sebaga the best di atara 11 tokoh dunia yang pernah ada. Masya Allah.

BERITA TERKAIT