08 May 2020, 06:45 WIB

PLN tidak Sosialisasi Penghitungan Tarif Listrik saat PSBB


Hld/X-7 | Politik dan Hukum

SEJUMLAH warga pengguna listrik PT PLN (persero) menyayangkan ku­rangnya sosialisasi dari PLN kepada masyarakat mengenai informasi ada­nya peningkatan tagihan reke­ning listrik.

Salah seorang warga DKI Jakarta, Shafina Rahmanida, menga­takan pihak PLN tidak menginformasikan kepada masyarakat bahwa kenaik­an penggunaan lis­trik sejak Maret karena dimulai­nya pembatasan sosial berskala be­­sar (PSBB).

“Seharusnya diinformasikan sehingga masyarakat pun bisa paham bahwa ada biaya tagihan listrik yang diakumulasikan di bulan Mei,” ujar Shafina saat dihubungi, kemarin.

Ia mengaku tagihan listrik rumahnya naik hingga 61,5%, dari biasanya Rp1,3 juta menjadi Rp2,1 juta.

Selain itu, tambahnya, PLN harus transparan dalam memberikan data kenaikan konsumsi listrik tersebut ke pelanggan.

“Saya memaklumi kalau petugas tak bisa datang lalu menggunakan hitungan rata-rata tagihan tiga bulan sebelumnya. Tapi baiknya, di bulan selanjutnya, kalau memang ada selisih dan PLN sudah ada data pasti selisihnya, bisa diinfokan ke pelanggan. Supaya masyarakat tidak panik, dan jadi banyak yang komplain,” ujarnya.

Shafina mengaku sudah menghubungi pihak PLN untuk memastikan apakah kenaikan tersebut sesuai atau tidak. Namun, PLN belum memberikan data perincian penghi­tungan.

“Mereka mengatakan apabila ada perbedaan antara penggunaan listrik di rumah dan biaya tagihan yang ditanggung, PLN akan mengu­rangi tagihan konsumsi listrik ru­mahnya,” tambah Shafina.

Sebelumnya, PLN mengklaim ti­dak menaikkan tarif listrik. Executive Vice President Communication and CSR PLN, I Made Suprateka, me­ngatakan peningkatan tagihan rekening listrik April disebabkan adanya selisih tagihan rekening di bulan sebelumnya.

Menurutnya, pada Maret masya­rakat sudah melakukan PSBB sehingga terjadi kenaikan konsumsi listrik akibat banyaknya aktivitas pelanggan di rumah.

Sementara itu, tidak ada pencatat­an langsung oleh petugas meteran ke setiap rumah. Alhasil, penghi­tung­an tagihan dari rata-rata ter­tinggi penggunaan listrik tiga bulan sebelumnya.

“Padahal penggunaan Maret mengalami kenaikan. Penggunaan listrik lebih tinggi. Hal ini menyebabkan terjadi selisih antara jumlah penggunaan riil dan pencatatan (yang didasarkan angka rata-rata seama tiga bulan). Selisih ini kemu­dian terakumulasi ke dalam reke­ning April dan ditagihkan pada re­­­kening Mei,” paparnya melalui ke­­­terangan resmi. (Hld/X-7)

BERITA TERKAIT