08 May 2020, 05:30 WIB

Tradisi Hataman Kitab Kuning di Tengah Pandemi


Mohammad Ghazi/H-3 | Ramadan

Pengasuh Ponpes Bustanul Jadid, Kebunanyar, Desa Bukek, Kecamatan Tlanakan Pamekasan, Jawa Timur, KH Muzayyin Dasuki, membacakan kitab Fathul Muin, di masjid pesantren pada Rabu (6/5). Kegiatan hataman ‘kitab kuning’ rutin dilaksanakan pesantren-pesantren di Madura, Jawa Timur, setiap bulan puasa. Pengajian kali ini hanya diikuti lima santri. Mereka duduk berjauhan, masing-masing mengenakan masker. Di hadapan mereka terdapat tiga buah ponsel dengan kamera aktif.

Pada bulan puasa tahun ini, kegiatan hataman dan pengajian yang biasanya diikuti seluruh santri terpaksa dilakukan secara daring. Pasalnya, para santri telah diliburkan sejak pemberlakuan kegiatan belajar di rumah sebulan yang lalu. Karena itu, hataman disiarkan melalui akun media sosial seperti Facebook, Instagram, dan siaran langsung di kanal Youtube. “Apa yang kami lakukan hanya untuk mempertahankan tradisi Ramadan di pesantren,” kata Muzayyin kepada Media Indonesia.

Ia mengakui ada beberapa kendala untuk menggelar hataman secara daring. Tidak semua santri dan warga yang ingin mengikuti pengajian memiliki fasilitas yang memadai seperti ponsel dan paket data yang cukup. “Keluhan para santri, alumni, maupun wali santri, biaya hataman online ini bagi sebagian mereka cukup mahal karena harus menyediakan paket data internet. Sementara, sebagian santri tinggal di daerah yang jaringan internetnya buruk,” kata Muzayyin. Solusinya, pihak pesantren mengirim rekaman video melalui pesan WhatsApp.

Hataman online tersebut memiliki kelebihan, yakni peserta bisa memberikan umpan balik yang akan ditanggapi pada hari berikutnya. “Kalau hataman dengan cara biasa, tidak ada waktu,” kata Muzayyin. Kelebihan lain, jelas dia, siaran langsung hataman kitab tersebut bisa diikuti masyarakat umum sehingga cakupannya lebih luas, tidak hanya santri dan alumni.

Di Pamekasan, selain Ponpes Bustanul Jadid, kegiatan hataman ‘kitab kuning’ secara online juga dilaksanakan sejumlah pesantren seperti Ponpes Manbaul Ulum Bata-Bata dan Ponpes Sumber Anom. Kegiatan serupa juga dilaksanakan masjid dan organisasi kemasyarakatan. PCNU Pamekasan, misalnya, menggelar hataman kitab Risalah Aswaja yang disiarkan secara online setiap sore melalui akun resmi Facebook-nya, NU Online Pamekasan.

“Kami memanfaatkan kesempatan ini untuk pemantapan wawasan kebangsaan. Makanya kitab yang kami baca ialah Risalah Aswaja karya KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU yang lebih menekankan pada kecintaan pada bangsa dan Tanah Air,” kata Ketua Lakpesdam NU Pamekasan, Taufikurrahman Khafi. (Mohammad Ghazi/H-3)

BERITA TERKAIT