08 May 2020, 04:25 WIB

Ribuan Warga Putus Program KB


MT/MY/H-1 | Humaniora

RIBUAN warga Provinsi Bengkulu dinyatakan terhenti menggunakan alat kontrasepsi keluarga berencana (KB) selama masa pandemi covid-19.

Hal itu diakui Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bengkulu Rusman Efendi, kemarin, bahwa masa pandemi telah menimbulkan dampak pada semua sektor, termasuk program KB. “Ada 4.000 akseptor KB di Provinsi Bengkulu yang terputus atau terhenti selama covid-19,” katanya.

Dijelaskan, kesadaran masyarakat untuk menggunakan alat kontrasepsi KB sangat dibutuhkan agar tidak terjadi lonjakan angka kehamilan atau baby boom selama masa pandemi korona. Rusman menambahkan, salah satu upaya untuk mengantisipasi hal itu ialah dengan memaksimalkan peran seluruh kader dan penyuluh KB di tingkat desa.

“Untuk sampai ke masyarakat yang paling dekat ialah kader sebagai ujung tombak bagaimana pesan-pesan KB sampai ke masyarakat di masa pandemi ini,” ujar Rusman.

Sementara itu, Ketua Peng­urus Daerah Ikatan Bidan Indoensia (IBI) Provinsi Bengkulu Yusniar menjelaskan pelayanan KB di masa pandemi covid-19 ini harus tetap mengikuti protokol kesehatan. Warga yang hendak ber-KB tidak harus mendatangi fasilitas kesehatan, tetapi cukup menghubungi kader KB yang ada di setiap desa.

Antisipasi terhadap laju angka kehamilan pada masa pandemi ini juga dilakukan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kantor Perwakilan Kalimantan Tengah. “Kita tetap melakukan pembinaan dan edukasi ke masyarakat untuk mengurangi angka kehamilan,” kata Kepala Perwakilan BKKBN Kalteng M Irzal.

Sejumlah strategi tengah disiapkan terkait adanya kebijakan pembatasan fisik atau pembatasan sosial, antara lain dengan memanfaatkan media sosial untuk tetap melakukan pelayanan KB.

Seperti diberitakan sebelumnya, Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menyatakan kebijakan bekerja dari rumah (WFH) selama pandemi covid-19 berpotensi memicu peningkatan angka kelahiran (baby boom) jika pasangan tak acuh terhadap kontrasepsi. (MT/MY/H-1)

BERITA TERKAIT