08 May 2020, 04:15 WIB

Kendalikan Racun, Percaya dan Laksanakan Ajaran Buddha


Iwan Setiawan Pandita Majelis Buddha Dharma Nichiren Syosyu Indonesia  | Opini

ADALAH seorang Pangeran bernama Siddhartha Gautama dari Kerajaan Kapilavastu yang meninggalkan kerajaan untuk mencari jawab dari
sejumlah ‘penderitaan’ yang dialami umat manusia lain.

Buat seorang pangeran, meninggalkan kerajaan berarti melepas takhta, harta, dan segala hal yang melekat pada dirinya. Dirinya gelisah dan merasa tidak bisa merasa bahagia, selama umat manusia masih menderita. Mengapa manusia harus penuh derita, sejak lahir, menjadi tua, mengalami sakit lalu meninggal?

Sejak lahir sudah menangis, menjadi tua berarti memiliki raga yang renta, terlebih ketika terserang penyakit. Bahkan ketika meninggal pun bukan suatu tanda berakhirnya derita.

Ada apa? Bagaimana mengakhiri ini? Buat apa terlahir hanya untuk kemudian mengalami derita? Ada banyak lagi pertanyaan yang mendesak dalam diri Siddhartha Gautama yang perlu dijawab.

Dari menyiksa diri dengan menahan lapar dan haus, belajar banyak hal dari pengalaman maupun pengetahuan, Siddhartha mencapai kesadaran yang membuatnya lantas dikenal sebagai Buddha Sakyamuni atau orang dari suku Sakya yang tersadar.

Kesadaran apa yang ia dapati? Ajaran apa yang lalu tersebar luas ke seluruh dunia hingga kini? Adakah ajarannya yang masih relevan dengan situasi masa kini ?

Saat ini, dunia sedang dilanda pandemi covid-19 yang membuat kehidupan manusia serta Bumi yang didiami selama ini berubah. Kerja, belajar dan ibadah diimbau untuk dilakukan dari rumah. Untuk Indonesia saja, jumlah yang positif covid19 sudah tembus angka 10 ribu.

Selain itu, banyak usaha yang merugi bahkan tutup. Serta, jutaan karyawan kena PHK. Dan masih banyak masalah lain yang ikut menyertai akibat pandemi covid-19 ini. Hampir semua negara di dunia juga mengalami kondisi yang sama akibat pandemi covid-19. Bahkan, banyak negara lain yang kondisinya lebih parah.

Dalam salah satu ajarannya, Sang Buddha menyatakan mengenai 3 racun yang menjadi sumber penderitaan umat manusia. 3 racun itu disebut kebencian, keserakahan, dan kebodohan. Kebencian merupakan wujud dari rasa yang tidak bisa menerima suatu hal bisa terjadi namun tidak sesuai dengan keinginan kita. Ketidak mampuan menerima ini bahkan menjadi semakin parah, hingga terkadang ingin memusnahkan. 

Ketika rasa benci muncul kepada seseorang, misalnya pesaing dalam usaha, tidak jarang Kita lalu putar otak, cari seribu cara agar pesaing kita bisa bangkrut, tidak bisa usaha lagi. Dunia percintaan yang harusnya membahagiakan, namun ketika telah teracuni kebencian, bukan cerita baru jika kemudian malah berujung saling bunuh.

Lebih dahsyat dari virus korona, racun kebencian ada dalam diri kita. Bahkan, sebagian dari kita tidak menyadari atau menyadari telah menanam, membagi, dan memeliharanya. Dengan berbagai alasan bahkan ada yang menjadikan benci sebagai energi untuk terus hidup.

Sedemikian racun kebencian telah menggerogoti kita semua. Racun kedua ialah keserakahan. Ada ungkapan paling pas untuk melukiskan keserakahan, yaitu rasa haus yang tidak pernah selesai. Rasa untuk memiliki, merasakan dan menjadi sesuatu yang lebih secara terusmenerus, tidak pernah puas. 

Ingin makan makanan yang disukai tanpa bisa ada kendali untuk berhenti. Bahkan penyakit sekalipun. Rasa ingin kaya raya yang terus-menerus, hingga harus korupsi, jual obat terlarang, atau apa saja asal dirinya bisa lebih kaya.

Keinginan untuk memiliki tampilan yang dianggap sempurna. Sehingga, terus memoles diri, operasi plastik tidak berhenti hingga malah tidak jelas lagi menjadi cantik atau menakutkan wajahnya. Ketika racun serakah tersebut menjangkiti seseorang, tidak boleh ada di dunia ini yang lebih dari dirinya. Yang dipenuhi manusia itu ialah keinginan, bukan kebutuhan.

Terakhir ialah racun kebodohan, yang dalam hal ini bukan bodoh dalam arti tidak bisa baca, tulis, atau hitung. Tapi, ketidakmampuan membedakan antara kebenaran dengan kepalsuan. Menghina bulan di langit, namun memuja bayangan bulan di kolam. Seperti orang yang begitu terpukau pada ajakan untuk bisa kaya raya hanya dengan tidur atau tidak bekerja. 

Namun, menertawakan orang lain yang setiap hari bekerja demi penghidupan. Merasa bahagia jika menguasai harta dan takhta, tapi melukai semua orang. Secara ukuran masyarakat, dia bisa saja cerdas, namun dari sudut agama Buddha, dia malah dianggap bodoh.
Karena, ketika menggunakan kecerdasan untuk memperdaya atau menipu orang lain, saat itu juga ia sesungguhnya telah diracuni kebodohan.

Entah sudah berapa lama, kita semua terkena 3 racun ini. Segala ucapan, perilaku, dan perasaan kita telah terkontaminasi bahkan telah ketagihan pada racun ini. Pada titik ini perayaan hari Trisuci Waisak menjadi perlu dan tepat. Karena dengan percaya, belajar, dan melaksanakan ajaran sang Buddha kita dapat mengendalikan racun menjadi obat dalam diri kita.

Kita tidak mungkin untuk hidup dengan tanpa racun lagi. Karena dunia serta sesama manusia saat ini terlanjur keruh. Tinggal bagaimana kita jadi bunga teratai yang tetap dapat tumbuh indah walau di kolam atau danau tersebut penuh lumpur sekalipun.

Bagaimana kita mengubah rasa serakah untuk terus ingin kaya, menjadi serakah untuk terus mau membahagiakan orang lain. Dasarnya, bisa jadi sama-sama serakah, namun tujuan yang membedakan.

Untuk itu, perlu selalu memikirkan dan berusaha untuk kebahagiaan orang lain. Kunci kebahagiaan dalam hidup manusia, menurut ajaran Buddha, bukan menjadi sukses, kaya, populer atau berkuasa. Tapi, bagaimana kita bisa percaya belajar dan melaksanakan maitri karuna. 

Sudah sekian lama kita semua tertipu oleh bayangan bulan di air. Kekayaan, populeritas ataupun kekuasaan tidak menjadikan kita bahagia. Tapi, membahagiakan orangtua, anak, istri, rakyat, karyawan atau siapa saja di luar hidup kita, justru membahagiakan kita. Bukan tidak boleh menjadi kaya atau populer. Tapi, pastikan tujuannya untuk membahagiakan orang lain.

Saat ini, situasi justru dengan jelas mendukung hal tersebut. Kebutuhan yang paling utama bukan menjadi kaya, tapi sehat. Selain itu, diri sendiri saja sehat jadi tidak ada arti jika virus korona yang bisa membuat sakit siapa saja masih berada di luar sana.

Untuk itu kita harus membantu sebisa Kita, setidaknya tetap di rumah dan jaga jarak. Serta, gunakan masker dan cuci tangan adalah gerakan melindungi diri sendiri dan orang lain. Sang Buddha moksa pada usia 80 tahun. Ia dikatakan moksa karena sesungguhnya masih hidup.  Hidup dalam setiap ajaran yang ia tinggalkan. Semakin kuat kita rasakan kekuatannya ketika kita percaya, melaksanakan, dan mempelajari ajaranya. Itulah makna penting hari Trisuci Waisak tahun ini.

Selamat Hari Waisak.

 

BERITA TERKAIT