08 May 2020, 01:55 WIB

Chelsea Islan Urgensi Guru ketimbang Internet


Bagus Pradana | Humaniora

ISU pendidikan, anak muda, dan keberagaman sudah lama jadi perhatian Chelsea Islan. Tidak hanya aktif berakting, tetapi juga pada 2016 ia mendirikan komunitas Youth of Indonesia yang merupakan wadah untuk anak muda bertukar ide dan berkolaborasi.

Lewat akun Instagram @chelseaislan, perempuan yang antara lain membintangi film Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015) dan Rudy Habibie (2016) ini juga kerap menggunggah kegiatan terkait dengan pendidikan seperti penyediaan akses bacaan di beberapa wilayah Indonesia Timur bersama beberapa organisasi sosial dan perusahaan.

Tidak mengherankan jika ketika menjadi salah satu pembicara di konferensi pendidikan daring Akademi Edukreator yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Rabu (6/5), Chelsea bersemangat berbicara soal pendidikan di wilayah Indonesia Timur. Dalam konferensi bertajuk Membangun Dunia Pendidikan Baru itu,  Chelsea tampil di sesi kelima, Belajar Mendobrak Cara Belajar. Ia tidak ragu mengkritisi soal konsep pendidikan modern berbasis internet yang tengah digencarkan pemerintah. Dara berusia 24 tahun itu memberi catatan berdasarkan pengalamannya ke berbagai pelosok daerah. 

“Dari pengalaman aku, di pelosok itu mereka susah mendapatkan jaringan internet, bahkan layanan televisi saja biasanya Pak RT atau kepala desanya yang punya. Kalau orang biasa, kepikiran untuk punya (televisi) saja enggak karena itu memang bukan prioritas,” tutur Chelsea menjawab pertanyaan personel Project Pop, Yosi Mokalu, yang menjadi moderator. Yosi meminta pendapat Chelsea soal pendidikan berbasis internet.


Adaptasi

Selain itu, menurut Chelsea, jika memang kemudian akses internet bisa disediakan merata di seluruh Indonesia, pemerintah harus memperhitungkan mengenai kebutuhan adaptasi para pelajar di pelosok. “Kalaupun sampai ada jaringan internet di sana, ya semoga itu memudahkan anak-anak. Tetapi, menurutku, mereka tetap butuh waktu untuk beradaptasi karena sudah biasa dengan metode konvensional,” jelas pemenang empat penghargaan actress of the year ajang Indonesian Choice Awards dari 2015-2018 ini.

Sebab itu, menurut Chelsea, pemerintah lebih urgen untuk menyelesaikan persoalan kekurangan guru. Pemeran serial sitkom televisi Tetangga Masa Gitu? ini melihat jika kekurangan guru, membuat anakanak terkendala untuk mengikuti kurikulum, juga mengembangkan potensi daya kritis dan kreativitas mereka yang sesungguhnya sangat besar.

Hal itu Chelsea rasakan ketika mendapat banyak pertanyaan yang kritis dari anak-anak di sana. “Dari sekian banyak masalah pendidikan yang harus diperhatiin di bagian timur Indonesia adalah SDM-nya ya, mungkin lebih banyak guru lagi yang diterjunin ke sana. Tenaga pengajar itu sih yang dibutuhkan menurut aku, itu sih yang mereka butuhkan,” tegasnya.

Dengan ketersediaan guru yang memadai, menurut Chelsea, anak-anak di pelosok juga tidak akan tercabut dari suasana dan lingkungan
belajar yang sesungguhnya sangat istimewa di sana. Lingkungan itu ialah alam luas yang dapat menjadi media anak-anak menggali beragam ide dan inspirasi. Sementara itu, untuk pelajar di perkotaan, internet memang menjadi penting karena lingkungan belajar kebanyakan di dalam ruangan (indoor).

Chelsea yang melihat perpustakaan speed boat saat kunjungannya ke Sentani dan Wamena, Papua, pada 2018 mengungkapkan jika bertekad untuk terus membantu anak-anak pelajar di wilayah timur Indonesia. Salah satu cara yang telah dilakukan ialah penggalangan dana yang bekerja sama dengan Taman Bacaan Pelangi. Penggalangan dana tersebut dimaksudkan untuk membagikan paket pembelajaran kepada 2.000 anak di Flores dan Papua Barat agar mereka tetap dapat belajar selama sekolah tutup akibat pandemi covid-19.

“Semoga dengan donasi yang kemarin aku coba galang, bisa membantu anak-anak di sana,” pungkas perempuan yang pada 2018 meresmikan Perpustakaan Taman Bacaan Pelangi di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. (M-1)

 

BERITA TERKAIT