08 May 2020, 00:10 WIB

Pandemi Korona Lebih Buruk dari Serangan 9/11


Nur Aivanni | Internasional

PRESIDEN Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan dampak pandemi virus korona telah menghantam AS lebih keras daripada pengeboman Pearl Harbor pada 7 Desember 1941 oleh Jepang atau serangan Al-Qaeda pada 11 September 2001 di New York dan Washington.

“Ini (pandemi) benar-benar serangan terburuk yang pernah kami alami,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih, seperti dikutip dari AFP, Kamis (7/5). “Ini lebih buruk dari Pearl Harbor. Ini lebih buruk daripada World Trade Center,” tambahnya.

Pada Rabu, Tiongkok pun membalas mengenai klaim Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo yang mengatakan virus tersebut berasal dari laboratorium Wuhan. Tiongkok mengatakan Pompeo tidak memiliki bukti.

“Masalah ini harus diserahkan kepada para ilmuwan dan profesional medis dan bukan politisi yang berbohong demi tujuan politik domestik mereka sendiri,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok.

Pandemi telah menewaskan lebih dari 260 ribu orang di seluruh dunia dan secara resmi menginfeksi hampir 3,7 juta orang.


Tanpa batas waktu

Trump juga mengatakan satuan tugas (satgas) virus korona Gedung Putih akan tetap melanjutkan tugasnya ‘tanpa batas waktu’ dengan kemungkinan perubahan personel.

“Satgas akan dilanjutkan tanpa batas waktu dengan fokus pada keselamatan dan pembukaan kembali negara kita,” cicit Trump dalam akun Twitter-nya, seperti dikutip dari Bernama, Kamis (7/5).

Tim tersebut akan fokus pada pengembangan vaksin dan pengobatan untuk virus korona. Pada Selasa, Wakil Presiden Mike Pence,
yang memimpin Satgas Covid-19, mengatakan pembicaraan sedang dilakukan tentang meredam pekerjaan Satgas.

“Kami sedang melakukan pembicaraan tentang itu dan tentang waktu yang tepat bagi gugus tugas untuk menyelesaikan pekerjaannya,” kata Pence kepada wartawan. 

Kemungkinan penyesuaian di tubuh Satgas yang anggotanya termasuk pakar penyakit menular, AS Anthony Fauci, muncul pada saat kasus yang dikonfirmasi covid-19 di AS naik melampaui 1,2 juta, dengan angka kematian melampaui 71 ribu, menurut data Johns Hopkins University.  (AFP/Bernama/I-1)

BERITA TERKAIT