07 May 2020, 17:10 WIB

Mempertahankan Tradisi Hataman Kitab di Tengah Wabah


Mohammad Ghazi | Nusantara

KH. Muzayyin Dasuki, pengasuh Ponpes Bustanul Jadid, Kebunanyar, Desa Bukek, Kecamatan Tlanakan Pamekasan, Jawa Timur, Rabu (6/5), membacakan kitab Fathul Muin, di masjid pesantren.

Kegiatan itu merupakan kegiatan hataman kitab kuning yang rutin dilaksanakan pesantren di Madura, Jawa Timur di setiap bulan puasa. Biasanya, kitab yang dibaca selama 15 sampai 20 hari di bulan Ramadlan itu, adalah kitab yang dipelajari di pesantren tersebut dalam satu tahun masa dirosah (satu tahun pelajaran).

Hal yang tidak seperti pengajian rutin yang biasa ia laksanakan, pengajian kali ini hanya diikuti lima orang santri yang duduk berjauhan dan menggunakan masker. Di hadapannya terdapat tiga ponsel android dengan kamera aktif.

Pada bulan puasa tahun ini, kegiatan yang biasanya diikuti seluruh santri itu terpaksa dilaksanakan secara daring dan disiarkan langsung melalui akun media sosial. Sebab, para santri diliburkan sejak pemberlakukan kegiatan belajar di rumah sebulan lalu.

Selain melalui facebook dan instagram, juga menggunakan saluran siaran langsung di youtube. Kepada Media Indonesia, Muzayyin mengatakan selama masa pandemi, kegiatan pengajian dilakukan secara online. Meskipun ada santri yang mengikuti langsung, namun jumlahnya tidak seberapa dan diwajibkan mengikuti protokol penanganan covid.

"Apa yang kami lakukan hanya untuk mempertahankan tradisi ramadanan di pesantren," katanya.

Ia mengakui ada beberapa kendala untuk menggelar hataman secara online. Diantaranya, tidak semua santri dan warga yang ingin mengikuti pengajian memiliki fasilitas yang memadai. Diantaranya HP android dan paket data yang cukup.

"Diantara keluhan para santri, alumni maupun wali santri, biaya hataman online ini bagi sebagian mereka cukup mahal. Karena harus menyediakan paket data inernet. Sementara sebagian santri tinggal di daerah yang jaringan internetnya minim," kata Muzayyin.

Kelebihannya, "pemirsa" bisa memberikan umpan balik melalui komentar yang akan ditanggapi pada hari berikutnya. Kondisi itu tidak diperoleh dalam kegiatan hataman biasanya.

"Karena kalau hataman dengan cara offline, tidak ada waktu bagi mereka memberikan umpan balk secara bebas," kata Muzayyin.

Kelebihan lainnya, jelas dia, siaran langsung hataman kitab tersebut bisa direlay akun media sosial lainnya dan cakupannya lebih luas, bukan hanya diikuti santri dan alumni, melainkan warga lainnya.

Untuk menyiasati santri yang tidak bisa memgikuti pengajian melalui siaran langsung, jelas alumni Ponpes Nurul Jadid, Probolinggo itu, pihak pesantren akan mengirim rekaman video melalui pesan WhatsApp.

Di Pamekasan, selain Ponpes Bustanul Jadid,  kegiatan hataman kitab kuning secara online juga dilaksanakan sejumlah pesantren lain, seperti Ponpes Manbaul Ulum Bata-Bata dan Ponpes Sumber Anom.

Selain ponpes, kegiatan serupa juga dilaksanakan beberapa masjid dan organisasi kemasyarakatan. PCNU Pamekasan, misalnya, juga menggelar hataman kitab "Risalah Aswaja" yang disiarkan secara online setiap sore melalui akun resmi facebooknya, NU Online Pamekasan.

"Selain menjaga tradisi, kami memanfaatkan kesempatan ini untuk pemantapan wawasan kebangsaan. Makanya kitab yang kami baca adalah Risalah Aswaja karya KH. Hasyim Asyari, pendiri NU yang lebih menekankan pada hubbul wathan atau kecintaan pada bangsa dan tanah air," kata Ketua Lakpesdam NU Pamekasan, Taufikurrahman Khafi. (OL-13)

Baca Juga: Jimly Anggap Negara Nondemokrasi lebih Baik Tangani Korona

Baca Juga: Tahapan Exit Strategy Covid-19 yang Viral Ternyata masih Kajian

 

BERITA TERKAIT