07 May 2020, 16:42 WIB

Hong Kong Sita 26 Ton Potongan Sirip Hiu Selundupan


Deri Dahuri | Internasional

PETUGAS Hong Kong telah menyita 26 ton sirip hiu selundupan. Potongan irisan sirip berasal dari sekitar 38.500 hiu yang kini terancam punah. Hasil sitaan barang selundupan dari satwa langka itu terbesar di Hong Kong, kota yang berada di wilayah selatan Tiongkok.

Penyelundupan sirip hiu mencapai rekor besar tersebut dari dua kontainer asal Ekuador. Aksi penyelundupan bagian tubuh satwa yang dilindungi tetap marak karena pasarnya menjanjikan di Hong Kong dan Tiongkok. Masyarakat setempat biasanya menjajikan menu sirip hiu sebagai menu istimewa pernikahan.   

Departemen Bea Cukai Hong Kong mengungkapkan terbongkarnya upaya penyelundupan sirip hiu pada Rabu (6/5). Dari jumlah total penyelundupan kali ini menjadi yang tersebar jika dengan terbongkarnya kasus serupa sebelumnya.

"Setiap pengiriman yang terdiri dari 13 ton memecahkan rekor penyitaan sebelumnya sebesar 3,8 ton sirip hiu yang diterbongkar pada 2019," kata pejabat Bea Cukai Hong Kong,  Danny Cheung, kepada wartawan.

Sebagian besar sirip berasal dari jenis hiu totol dan sutra. Kini populasi spesies hiu terancam punah. Bersamaan dengan terbongkar penyelundupan sirip hiu langka, seorang pria berusia 57 tahun ditangkap. Tetapi pria telah dibebaskan dengan jaminan sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut.

Satwa predator puncak di lautan tersebut kini jumlah populasi semakin berkurang dalam beberapa dekade terakhir. Perburuan hiu masih marak dengan tingginya permintaan sirip hiu dari beberapa negara.

Banyak penangkapkan yang dilakukan para nelayan dengan cara memotong sirip hiu yang masih hidup. Setelah dipotong siripnya, hiu-hiu dengan kondisi cacat kembali dilepas ke lautan lepas demi mencari keuntungan semata.  

Sirip hiu kering dijual dalam jumlah besar dan biasanya disajikan dalam sup ketan saat jamuan makan. Sebenarnya penjualan dan konsumsi sirip hiu legal di Hong Kong, tetapi harus memiliki perizinan ketat.

Sememtara itu, kampanye bertahun-tahun oleh para pencinta lingkungan dan selebritas seperti bintang bola basket Tiongkok Yao Ming untuk tidak mengonsumsi sirip hiu memberi dampak positif.  Penikmat hidangan sup sirip hiu mulai berkurang di kalangan muda di Tiongkok,  Makau, Hong Kong, dan Taiwan.

Tapi kalangan konservatif masih tetap keras kepala menyukai sup sirip hiu. Para orang tua itu biasanya menikmati sup sirip hiu di sejumlah  hotel dan restoran terkemuka yang masih menawarkannya.

Sebuah survei tahun 2018 yang dilakukan World Wildlife Fund (WWF) menemukan tujuh dari 10 warga Hong Kong makan sirip ikan hiu.

"Masih ada nilai budaya yang kuat pada konsumsi sirip ikan hiu, terutama di pernikahan, acara bisnis dan pertemuan keluarga seperti Hari Ibu yang akan datang," kata pejabat konservasi senior Gloria Lai Pui-yin kepada AFP.

Beberapa restoran dan hotel telah menandatangani ikrar "No Shark Fin" dengan WWF tetapi banyak yang terus menawarkan hidangan itu, tambahnya.

Wild Aid memperkirakan sekitar 73 juta hiu dibunuh setiap tahun untuk diperjual-belikan. Penelitian Wild Aid mengatakan konsumsi telah menurun secara signifikan di daratan Tiongkok. Tetapi hobi mengonsumsi sup sirip hiu masih banyak ditemukan di Thailand, Vietnam, dan Indonesia.

Di sisi, dengan pelabuhan yang sibuk dan koneksi internasional, Hong Kong telah lama menjadi rute perdagangan utama untuk penyelundupan satwa liar dan obat-obatan terlarang.

Mengimpor spesies yang terancam punah tanpa lisensi adalah ilegal dan membawa hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda HK $ 10 juta atau US$ 1,3 juta. (AFP/OL-09)

BERITA TERKAIT