07 May 2020, 13:48 WIB

Pemerintah Perlu Percepat Penyaluran Stimulus Fiskal


Hilda Julaika | Ekonomi

PERTUMBUHAN ekonomi (PE) Indonesia pada kuartal I turun tajam menjadi 2,97%. Angka ini menunjukkan perlambatan bila dibandingkan PE pada kuartal I 2019 lalu yang tumbuh 5,07%. 

Perlambatan ini sebagai akibat dari tekanan ekonomi selama pandemi covid-19. Pemerintah pun diminta untuk mempercepat penyaluran bantuan stimulus fiskal.

Menurut Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE), Piter Abdullah perlambatan ekonomi ini sudah diperkirakan sebelumnya. Hal ini disebabkan semua faktor pembentuk pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi yang sangat besar. Terutama konsumsi masyarakat yang mengalami penurunan taja, di tengah pandemi covid-19 ini.

“Perlambatan itu sudah pasti. Yang bisa dilakukan adalah menahan agar penurunan atau minus nya tidak terlalu dalam,” ujar Piter kepada Media Indonesia, Kamis (7/5).

Lebih lanjut pengamat ekonomi senior ini menjelaskan, konsumsi masyarakat turun ditunjukkan oleh indeks penjualan riil pada Januari-Maret yang turun secara berturut-turut. Bahkan pada bulan Maret diprediksikan turun hingga 5%. Sehingga konsumsi anjlok menjadi sekitar 2,6% dari angka indeks penjualan rill biasanya sekitar 5%.

“Padahal konsumsi menyumbang sekitar 56% dari pertumbuhan ekonomi. Jadi wajar kalau pertumbuhan ekonomi kita terkoreksi begitu dalam. Karena konsumsi juga turun sangat dalam. Apalagi ekspor juga turun, belanja pemerintah turun,” urainya.

Baca juga: Koordinasi Lemah Picu Sengkarut Bansos Pemprov DKI - Pusat

Melihat tekanan ekonomi yang berdampak pada hampir semua sektor, Piter meminta pemerintah untuk bergerak cepat dalam merealisasikan bantuan stimulus fiskal. Penyaluran stimulus ini memang bukan mendorong pertumbuhan ekonomi. Tetapi setidkanya menahan agar ekonomi Indonesia tak semakin jatuh.

“Yang bisa dilakukan pemerintah adalah mempercepat penyaluran bantuan stimulus fiskal. Tapi bukan untuk mendorong agar kembali tumbuh, tapi untuk menahan agar tidak terlalu dalam jatuhnya pertumbuhan ekonomi kita” sarannya pada pemerintah Indonesia.

Sementara itu, CORE memprediksi pada triwulan II tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami perlambatan yang lebih dalam. Ia menyampaikan prediksinya pada Media Indonesia, pertumbuhan ekonomi triwulan II akan di kisaran minus 1,9% sampai minus 7,5%.

“Pada triwulan II, CORE memperkirakan PE di kisaran minus 1,9% sampai dengan minus 7,5%. Dengan melihat pertumbuhan ekonomi triwulan 1 yang hanya 2,97%, saya kira pertumbuhan ekonomi triwulan II kira-kira di kisaran minus 5% sampai minus 6%,” tandasnya. (A-2)

 

 

BERITA TERKAIT