07 May 2020, 08:30 WIB

Harga Minyak Jatuh karena Kekhawatiran Kelebihan Pasokan


Antara | Ekonomi

HARGA minyak tergelincir pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB), setelah sehari sebelumnya melonjak, di tengah kekhawatiran atas kelebihan pasokan karena pandemi covid-19 terus menekan permintaan.

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni turun tipis US$0,57 menjadi menetap pada US$23,99 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Juli turun US$1,25 atau 4,0% menjadi ditutup pada US$29,72 per barel di London ICE Futures Exchange. Penurunan Brent pertama setelah kenaikan enam sesi berturut-turut.

Kelebihan pasokan dan kapasitas penyimpanan mengkhawatirkan pasar meskipun data menunjukkan persediaan minyak mentah mingguan AS naik lebih rendah dari yang diperkirakan.

Persediaan minyak mentah komersial AS, tidak termasuk dalam Cadangan Minyak Bumi Strategis, naik 4,6 juta barel selama pekan yang berakhir 1 Mei, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan pada Rabu (6/5). Angka itu lebih kecil dari rata-rata penambahan 7,1 juta barel yang diperkirakan oleh analis yang disurvei oleh S&P Global Platts.

Baca juga: Dolar dan Yen Menguat meski Data Ekonomi Global Suram

Pergerakan pasar pada Rabu (6/5) menyusul kenaikan yang menarik perhatian dalam harga minyak selama sesi sebelumnya. Patokan minyak AS melonjak lebih dari 20% pada Selasa (5/5), membukukan kenaikan beruntun lima hari.

"Kami percaya bahwa euforia saat ini di pasar minyak adalah prematur. Bahkan setelah kembalinya aktivitas ekonomi secara bertahap, permintaan dapat tetap di bawah level 2019 untuk tahun-tahun mendatang," Eugen Weinberg, analis energi di Commerzbank Research, mengatakan dalam sebuah catatan Rabu (6/5).

Untuk saat ini, persediaan yang melonjak adalah pengingat berlebihnya persediaan yang bertahan di pasar.

"Kami cenderung setuju bahwa pasar telah mencapai titik terendah, tetapi akan memperingatkan agar tidak terlalu bersemangat tentang hal ini," kata analis di JBC Energy, seperti dikutip Reuters. "Data untuk April benar-benar sangat buruk." (A-2)

BERITA TERKAIT