07 May 2020, 04:36 WIB

2070, Manusia Hidup dalam Puncak Suhu Ekstrem


Bagus Pradana | Weekend

Pada tahun 2070, lebih dari tiga miliar manusia diperkirakan akan hidup dalam suhu panas yang ekstrem, jika dalam kurun waktu 50 tahun ke depan, kita gagal menurunkan emisi gas rumah kaca di Bumi. Demikianlah hasil studi yang diungkapkan oleh para peneliti dari Global Systems Institute, University of Exeter, Inggris (6/5).

Dalam studi tersebut, diperkirakan banyak tempat di muka Bumi akan mengalami peningkatan suhu rata-rata hingga diatas 29C. Prediksi tersebut banyak dianggap merupakan gambaran paling buruk dari yang akan dihadapi manusia selama 6.000 tahun terakhir ini.

Dengan menggunakan data proyeksi populasi PBB dan perkiraan kenaikan suhu global, para peneliti membuat skenario pemanasan 3C untuk menghitung prediksi peningkatan suhu Bumi dalam kurun waktu 50 tahun ke depan. 

Menurut para peneliti, populasi manusia sejak ribuan tahun yang lalu telah terkonsentrasi dalam rentang iklim yang sempit, dengan mayoritas berada di lokasi yang memiliki suhu rata-rata sekitar 11-15C. Sementara itu sebagian kecil lainnya tinggal di daerah dengan suhu rata-rata 20-25C, meliputi daerah-daerah di Asia Selatan yang memiliki musim hujan tahunan yang cukup panjang untuk mengairi petak-petak lahan pertanian yang vital bagi kehidupan mereka.

Namun, bila emisi gas rumah kaca dalam 50 tahun ini tak dapat diatasi, dapat dipastikan suhu bumi akan terus mengalami peningkatan hingga sejumlah besar penduduk Bumi akan hidup dalam suhu ekstrim yang melebihi 'rentang iklim normal'.  

Profesor Timothy Lenton, selaku direktur dari Global Systems Institute di University of Exeter, menyampaikan peringatannya terhadap risiko kenaikan suhu Bumi dalam beberapa waktu ke depan, jika kita (manusia) gagal mengatasi masalah pemanasan global.

"Tanah memanas lebih cepat dari pada lautan sehingga meningkatkan suhu bumi tiga derajat celcius. Populasi manusia yang telah terbiasa hidup di lokasi yang cukup panas, sebagian besar bermukim di kawasan Afrika sub-Sahara, dalam waktu dekat akan menjadi yang terdampak peningkatan suhu yang terjadi," ungkap Tim Lenton, seperti dilansir oleh bbc.com (6/5).

Wilayah-wilayah yang diproyeksikan akan terpapar efek langsung dari peningkatan suhu bumi antara lain meliputi Australia utara, India,  Afrika, Amerika Selatan, dan sebagian Timur Tengah.

Studi ini juga cukup menimbulkan kekhawatiran terhadap orang-orang di daerah miskin yang tidak dapat berlindung dari ancaman suhu panas ini.

Profesor Lenton menyatakan bahwa pesan utama dari dari temuan tim peneliti yang dipimpinnya ini semata adalah salah satu bentuk upaya preventif untuk meminimalisir jumlah korban yang diproyeksikan akan terkena imbas dari perubahan iklim tersebut.

"Bagi saya, penelitian ini bukan hanya tentang orang kaya yang bisa masuk ke dalam gedung ber-AC dan melindungi dirinya dari perubahan iklim pun. Kita harus peduli dengan mereka yang tidak memiliki sarana untuk mengisolasi diri dari cuaca dan iklim yang tak menentu di masa depan," pungkas direktur dari Global Systems Institute ini. (M-2) 

BERITA TERKAIT