07 May 2020, 00:35 WIB

Banjir Informasi soal Covid-19, ini Saran Psikolog Agar tak Stres


Syarief Oebaidillah | Humaniora

PANDEMI covid-19 yang melanda dunia bisa memberikan dampak pada kesehatan mental masyarakat akibat derasnya arus informasi tentang wabah yang disebabkan oleh virus korona baru itu.

Untuk itu, masyarakat harus kritis, selektif, dan tidak mudah menelan mentah-mentah informasi terkait covid-19 di banyak media., termasuk media sosial. Terlebih, informasi palsu atau hoaks juga ikut menyertai soal covid-19.

"Pada situasi pandemi covid-19 kita harus selektif menerima informasi disertai menjaga dan memperkuat imunitas. Pasalnya jika terkena stres mempengaruhi imunitas sehingga serangan virus mudah masuk. Akibatnya kita terjangkit sakit," kata psikolog Ifa H. Misbach pada konferensi video bertajuk `Bincang-Bincang Serangan Kecemasan Corona`.

Ifa yang juga dosen psikologi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu mengatakan, derasnya infromasi soal covid-19 menimbukan memantik kecemasan dan ketakutan. Sehingga secara psikologis memunculkan dampak pada masalah fisik dan psikis, seperti stres, sulit tidur, sakit kepala atau migrain, otot tegang, nyeri dada dan lain lain.

Guna menangkal hal itu terjadi,Ifa yang juga Kepala Klinik Psikologi RS Melinda Bandung meminta masyarakat mengedepankan sikap rasional dalam menerima dan mencerna informasi yang bersumber dari berbagai media termasuk medsos.

Baca juga : Ini Penyebab Tenaga Medis Terpapar Covid-19

Menurutnya ada tiga langkah yang bisa dilakukan. Pertama, mengutamakan untuk menyaring dan menerima informasi dari media-media yang kredibel. Kedua, dengan melatih otak untuk tetap skeptis terhadap seluruh informasi yang datag.

"Kita harus memilah milah informasi yang masuk disertai sikap skeptis dulu. Lihat, apakah kalimatnya bombastis. Kita berlatih bahwa semua informasi ini tidak semuanya dapat dipercaya terlebih dulu, " cetus Ifa.

Langkah ketiga dengan menarik diri dari informasi-informasi tertentu yang memiliki dampak emosi berlebihan. Dia menyarankan perlunya kontemplasi atau perenungan sekitar 30 detik guna memilah dampak informasi kepada setiap pribadi.

"Jadi kita coba kontemplasi sejenak saja, apa yang dirasakan saat membaca informasi yang kita terima.Apakah ada message atau pesan yang masuk membuat kita sebel atau mual bahkan marah, " pungkasnya. (OL-7)

BERITA TERKAIT