06 May 2020, 17:29 WIB

OJK: Restrukturisasi Kredit Rp207,2 Triliun, Ini Masih Dinamis


Despian Nurhidayat | Ekonomi

OTORITAS Jasa Keuangan (OJK) menyatakan sebanyak 74 perbankan telah melakukan restrukturisasi kredit terhadap debitur yang terdampak pandemi covid-19.

Restrukturisasi kredit perbankan hingga 24 April 2020 dikatakan sudah mencapai Rp207,2 triliun baik dari debitur UMKM dan non UMKM.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan jumlah debitur yang melakukan restrukturisasi itu mencapai 1,02 juta. Restrukturisasi UMKM telah mencapai Rp99,3 triliun dengan jumlah debitur 819.923 dan non UMKM mencapai Rp107,85 triliun dari 199.411 debitur.

"Ini semua masih berjalan, jadi masih terus dinamis dan kita harapkan dengan cara ini kita akan mendapatkan info yang akurat. Kira-kira seberapa besar yang potensinya nanti untuk direstrukrisasi san ini akan memerlukan pinjaman likuiditas," ungkapnya dalam rapat kerja secara virtual bersama Komisi XI DPR RI, Rabu (6/5).

Lebih lanjut, adapun kredit yang berpotensi diresktrukturisasi memiliki debet kredit sebesar Rp1.112,59 triliun yang terdiri dari kredit UMKM Rp405,32 triliun dan non UMKM Rp707,26 triliun. Sehingga realisasi restrukturisasi tersebut masih sekitar 18,62%.

Wimboh menyatakan bahwa pada dasarnya semua kredit bisa direstrukturisasi. Namun, kredit yang dapat direstrukturisasi dengan cepat yakni segmen UMKM. Skema restrukturisasi yang dilakukan bisa kombinasi antara penundaan pembayaran baik pokok maupun bunga, serta melalui pemangkasan suku bunga kredit.

Skema restrukturisasi pun menurutnya tidak bisa diseragamkan karena kondisi masing-masing debitur berbeda-beda. "Kenapa ini tidak bisa dispesifikasikan detail diseragamkan karena masing-masing debitur itu beda-beda situasinya. Ada yang debitur kreditnya tinggal 3-6 bulan. Apalagi kredit motor ini kan tidak terlalu lama, bahkan ada yang sudah mau lunas. Dan juga kredit-kredit modal kerja untuk UMKM. Ini sangat beda," pungkas Wimboh.

Wimboh menambahkan, kredit yang direstrukturisasi ini nantinya akan dipakai sebagai sebagai underlying agar bank dapat pinjaman likuiditas baik lewat pinjaman antar banka maupun pakai dana pemerintah. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT