06 May 2020, 09:57 WIB

PMI Manufaktur April Anjlok, Menperin: Pengaruh Daya Beli Menurun


Hilda Julaika | Ekonomi

DIKETAHUI Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia periode April merosot ke level 27,5. 

Menurut Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita hal ini terjadi lantaran menurunnya daya beli masyarakat selama pandemi covid-19. 

Padahal sektor ini sangat bergantung pada kemampuan pasar dalam negeri untuk menyerap produk industri.

“Ekonomi kita khususnya sektor industri manufaktur sangat tergantung dari kemampuan pasar dalam negeri atau konsumsi domestik. Assessment kami sekitar 70% hasil produksi industri manufaktur diserap pasar dalam negeri,” papar Agus melalui siaran resmi yang Media Indonesia terima, Rabu (6/5).

Dengan begitu, sambungnya, ketika daya beli masyarakat tertekan, hal itu berdampak terhadap minimnya permintaan pasar. Secara otomatis perusahaan atau industri harus melakukan penyesuaian, termasuk penurunan drastis utilisasinya.

“Belum lagi dikaitkan dengan supply chain dari industri turunannya yang banyak tergantung dari industri besar atau industri induknya, pasti juga akan memukul supply chain tersebut,” ujar Agus. 

Baca juga: Meski Pandemi, Kontribusi Industri ke PDB Capai 19%

Menurutnya, kebutuhan dan ketersediaan bahan baku juga menjadi kendala, karena dikaitkan dengan demand yang ada. Selain itu, indeks manufaktur yang menurun juga disebabkan oleh pergerakan nilai tukar rupiah yang melemah. 

“Variabel penjualan dan input manufaktur kita 74% impor dan dengan tambahan tekanan kurs maka beban input meningkat. Akibatnya, output menurun signifikan,” tandasnya.

Namun demikian, Agus optimistis kegiatan industri akan segera normal bila Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dicabut nanti. “Industri manufaktur kita akan bergairah lagi, seperti PMI yang 51,9 di bulan Februari lalu,” tegasnya. (A-2)

 

 

BERITA TERKAIT