06 May 2020, 08:00 WIB

Neural Exercise, Olahraga Tepat saat Karantina


(Ata/H-2) | Humaniora

BEROLAHRAGA bukan melulu latihan fisik, melainkan juga bisa dilakukan dengan melatih saraf. Keduanya memiliki manfaat yang sama, yaitu menjaga kesehatan dan meningkatkan daya tahan tubuh, terlebih di kala pandemi virus korona baru (covid-19) saat ini.

"Latihan persarafan ini olahraga yang sangat dianjurkan untuk dilakukan di rumah selama masa physical distancing (menjaga jarak fisik), berdiam diri di rumah," ungkap pakar kedokteran olahraga dari UGM, Zaenal Muttaqin Sofro, kepada Media Indonesia, belum lama ini.

Ia menjelaskan, olahraga terbagi menjadi dua jenis, yakni olahraga persarafan (neural exercise) untuk menjaga kesehatan dan olahraga fi ik (physical exercise) untuk menjaga kebugaran. Olahraga persarafan diwujudkan dengan pernapasan, vokalisasi, dan postur. Olahraga ini bisa dilakukan dengan senam pernapasan, seperti senam tera dan yoga. Vokalisasi antara lain dengan bersenandung dan membaca Alquran.

Lalu, postur dapat ditempuh dengan cara melakukan senam taichi ataupun gerakan salat. Sementara itu, olahraga fisik bisa dilakukan untuk membuat badan tetap bugar saat menjalankan aktivitas sehari-hari. Bisa dengan jalan cepat, joging, bersepeda statis, senam, atau berenang. Olahraga fisik ini melibatkan otot besar, bersifat ritmis, serta berkelanjutan.

Namun, kata Zaenal, olahraga fi sik tidak boleh dilakukan berlebihan dengan intensitas tinggi sebab hal tersebut bisa mengganggu kesehatan. "Banyak physical exercise yang justru mengganggu kesehatan karena over training, maka harus benar-benar mengacu FITT principle, yakni frequency, intensity, time, and type," bebernya.

Zaenal mengungkapkan, olahraga persarafan bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Sementara itu, olahraga fisik dilakukan tiga sampai lima kali per minggu dengan intensitas sedang, durasi 30 menit-45 menit. Sebelum memulainya, harus didahului dengan pemanasan dan diakhiri pendinginan.

"Jika ingin olahraga di luar rumah, pastikan kondisi tubuh dalam keadaan fit, menjaga jarak aman, dan mengenakan masker," ujar Zaenal memperingatkan. Sejumlah penelitian menyatakan bahwa berolahraga dapat meningkatkan memori, meningkatkan konsentrasi, serta menurunkan berbagai risiko penyakit yang berhubungan dengan otak, seperti demensia (pikun), alzheimer, dan parkinson.

(Ata/H-2)

BERITA TERKAIT