06 May 2020, 06:30 WIB

Pemerintah Inggris Dituding Lamban Tangani Pandemi Covid-19


Basuki Eka Purnama | Internasional

INGGRIS kini menjadi negara kedua di dunia dengan jumlah angka kematian terbanyak di dunia setelah Amerika Serikat (AS). Berdasarkan angka resmi yang dirilis pada Selasa (5/5), Inggris dipastikan melewati Italia.

Hal mengerikan itu tampaknya tidak terpikirkan, dua bulan lalu, ketika negara itu mencatatkan kematian pertamanya dan Perdana Menteri Boris Johnson menegaskan 'Negeri Ratu Elizabeth' itu lebih dari siap menghadapi pandemi.

Angka kematian di Inggris meroket drastis setelah Badan Statistika Nasional Inggris (ONS) mulai mendata kematian yang terjadi di luar rumah sakit.

Baca juga: KBRI London Salurkan Bantuan ke WNI Terdampak Korona

ONS mengeluarkan data per minggu untuk periode dua pelan sebelumnya. Pada Selasa (5/5), mereka melaporkan ada 32.313 kematian akibat covid-19 di Inggris.

Itu menempatkan Inggris menduduki posisi kedua setelah AS yang mencatatkan 68.700 kematian dan melewati Italia yang membukukan lebih dari 29 ribu kematian.

Johnson bersikeras bahwa pemerintah menjalankan semua saran yang diberikan pada pakar. Namun, sejumlah pihak menuding pemerintah Inggris bekerja lamban.

"Sungguh keterlaluan angka kematian kita mendekati 30 ribu," kecam David King, penasehat ilmiah pemerintah Inggris antara 2000 dan 2007 kepada BBC, pekan lalu.

"Apa yang terjadi adalah kelambanan pemerintah menangani pandemi bahkan bisa dibilang pemerintah absen. Saya sangat kecewa dengan respon yang lamban ini," imbuhnya.

Johnson yang sempat dirawat di rumah sakit karena covid-19 dituding awalnya meremehkan virus korona itu.

Pada awal Maret, ketika WHO memperingatkan mengenai kemungkinan pandemi, pemerintahannya mempromosikan cuci tangan sebagai pertahanan terbaik dari covid-19.

Johnson bahkan mengatakan dirinya masih menjabat tangan warga setelah bertemu pasien pada 3 Maret. Dua hari kemudian pasien covid-19 pertama di Inggris meninggal dunia.

Saat jumlah kasus covid-19 mulai menanjak pada pertengahan Maret, pemerintah Inggris terus menolak melakukan contact tracing. Contact tracing adalah strategi yang digunakan negara yang sukses mengatasi covid-19 seperti Selandia Baru dan Korea Selatan.

Pemerintah Inggris mengatakan mereka akan berusaha menekan angka kasus covid-19 dengan melakukan langkah-langkah social distancing. Kala itu, Johnson tetap menolak melakukan lockdown.

Pada 20 Maret, seiring terus meningkatnya kasus dan kematian akibat covid-19, pemerintah Inggris memerintahkan sekolah, pub, restoran, pusat kebugaran, dan venue sosial lainnya ditutup.

Tiga hari kemudian, Johnson mengatakan warga hanya diizinkan ke luar rumah untuk membeli makanan, berolahraga sekali sehari, atau bekerja jika mereka tidak bisa bekerja dari rumah.

Editor jurnal medis Lancet Richard Horton menyebut kebijakan pemerintah Inggris dalam menghadapi pandemi covid-19 sebagai 'Kegagalan kebijakan ilmiah terbesar dalam satu generasi'.

"Jika kita sejak Februari telah melakukan pengujian dan contact tracing, serta meningkatkan kapasitas ruang perawatan intensif, kita akan bisa menyelamatkan banyak nyawa warga Inggris," tegasnya. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT