06 May 2020, 06:23 WIB

Kuasai Teknik Ini untuk Pertolongan Pertama Henti Jantung


Abdillah Marzuqi | Weekend

Kegawatdaruratan medis bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, termasuk henti jantung mendadak, seperti dialami mendiang Didi Kempot. Pertolongan pertama yang cepat dan tepat serta sangat diperlukan dalam kondisi tersebut adalah teknik resusitasi jantung paru (RJP) atau cardiopulmonary resuscitation (CPR).

Berikut tata pelaksanaan PCR jika Anda melihat seseorang dengan usia di atas 12 tahun mengalami henti jantung. Disarikan dari akun youtube Cincinnati Children Hospital. 

1.Penolong tiba. Cek lokasi sekitar. Pastikan tidak ada gangguan keamanan pada penolong dan korban.

2.Periksa respons dan kesadaran korban. Pemeriksaan dilakukan dengan memanggil korban disertai tepukan pada bahu. Jika tidak ada respons, segera hubungi layanan gawat darurat.

3.Terlentangkan korban pada permukaan datar dan keras.

4. Periksa tanda kehidupan selama 10 detik. Untuk memastikan napas korban, dekatkan kepala penolong pada muka korban. Mata penolong melihat dada korban untuk mengetahui gerakan naik-turun dada pasien sebagai tanda napas. Telinga penolong berada di atas hidung dan mulut korban, agar mudah mendengar maunpun merasakan napas korban. Cek juga denyut nadi di leher. 

5.Jika tidak ada pernapasan atau tanda kehidupan lain, mulailah RJP/CPR:

a. Posisikan satu telapak tangan di atas dada pasien. Letakkan tangan lain di atasnya.

b. Kunci siku dan luruskan lengan, condongkan tubuh dan tekan dada korban sedalam 2 inci selama 30 kali.

c. Setelah 30 kali tekanan, berikan bantuan pernapasan. Angkat dagu dan jepit hidung korban. Berikan dua kali bantuan napas secara pelan dan lembut. Dada korban harus naik pada tiap napas.

d. Lanjutkan siklus 30 kompresi/dua napas, 30 kompresi/dua napas. Cek nadi dan nafas setiap 5 siklus. 

e. Lanjutkan CPR sampai ada penyelamat lain yang menggantikan. Miringkan tubuh korbam ketika muncul tanda kehidupan.

Mengenal henti jantung

Henti jantung adalah kondisi ketika kontraksi jantung tiba-tiba berhenti mendadak. Salah satu penyebabnya adalah serangan jantung  yang dapat mengganggu sistem elektrik sehingga kontraksi jantung dapat tiba-tiba berhenti.

Dalam sebuh artikel Peran Masyrakat pada Pertolongan Pertama Henti Jantung yang ditulis Luthfia Nur Aini, masyarakat bisa memberikan pertolongan terbaik berupa resusitasi jantung paru (RJP) atau cardiopulmonary resuscitation (CPR). Pertolongan itu dilakukan dengan segera dan tanpa interupsi, karena masa emas korban henti jantung sampai ia mendapatkan pertolongan adalah 10 menit. Lebih dari itu, kemungkinan untuk hidup mengecil.

Dalam artikel itu juga disebut Hands only CPR yakni RJP/CPR yang hanya dilakukan dengan kompresi dada saja tanpa melakukan bantuan nafas. Hal ini dilakukan jika penolong tidak yakin dapat melakukan bantuan nafas terhadap korban. Kompresi dada dilakukan terus menerus tanpa interupsi.

Lalu apakah RJP bisa diterapkan pada kondisi korban tidak sadarkan diri yang bukan akibat henti jantung? Karena bisa saja korban hanya pingsan. Ternyata jika henti jantung merupakan penyebab terjadinya pingsan maka tindakan RJP masih sangat efektif. Jika penyebab pingsan bukan henti  jantung, tindakan RJP juga masih bermanfaat untuk menolong korban dalam memberikan responnya.

Banyak masyarakat takut dan kuatir mematahkan tulang iga korban patah akibat RJP. Memamang kekhawatiran itu bisa saja terjadi. Tetapi, penelitian menyebutkan patah iga akibat RJP tidak menyebabkan perdarahan serius dan tidak menyebabkan kematian. (Kemkes.go.id/M-2) 

BERITA TERKAIT