06 May 2020, 03:00 WIB

Colson Whitehead Kembali Raih Pulitzer


Bagus Pradana | Humaniora

PENULIS kenamaan Amerika Serikat, Colson Whitehead, berhasil memenangi anugerah Pulitzer kategori fiksi untuk bukunya, The Nickel Boys. Pada 2017, penulis berusia 50 tahun itu juga pernah menang di kategori yang sama dengan bukunya yang berjudul Underground Railroad.

Whitehead menjadi penulis fiksi keempat yang berhasil memenangi Pulitzer untuk kategori yang sama dua kali, setelah Booth Tarkington, William Faulkner, dan John Updike. Penulis Afrika-Amerika itu merasa terhormat setelah karyanya, The Nickel Boys, yang menceritakan tentang kisah pelecehan anak laki-laki kulit hitam memenangi anugerah tersebut. 

Karya itu terinspirasi kisah nyata yang terjadi di sebuah sekolah di Florida, sekolah khusus laki-laki Arthur G Dozier, yang para siswanya sering mendapatkan perlakuan tak manusiawi dari pihak sekolah.

Novel karya lulusan Harvard itu pun segera panen pujian dari komite Pulitzer karena eksplorasi yang ia gambarkan mengenai pelanggaran dan praktik-praktik kekerasan di sekolah asrama itu cukup detail. “Kisah yang kuat tentang ketekunan, martabat, dan penebusan nilai-nilai kemanusiaan”.

Seperti dilansir BBC.com, kemarin, Whitehead mengaku banyak terinspirasi dari tulisan-tulisan horor Stephen King dan ingin membuat narasi kisah yang serupa, tapi dalam versi gelapnya. Whitehead memulai kariernya dengan menulis review untuk acara televisi, film, dan musik. Novel pertamanya, The Intuitionist, menjadi finalis untuk PEN/Hemingway Award. Setelah itu, pada 2001 dia menerbitkan John Henry Days, novel yang mengisahkan seorang pekerja di pabrik baja. Buku itu  menjadi finalis dalam tiga ajang, yakni penghargaan lingkaran buku kritik nasional, penghargaan fiksi Los Angeles Times, dan Pulitzer. Novel itu menerima penghargaan fiksi Young Lions dan Anisfield-Wolf Book Award. 


Sempat tertunda

Ajang penganugerahan Pulitzer tahun ini sempat ditunda selama beberapa minggu akibat pandemi virus korona baru (covid-19). Namun, akhirnya tetap terlaksana melalui konferensi video yang diumumkan dari jarak jauh oleh Dana Canedy selaku administrator lomba.

Dalam sambutannya, Canedy sempat mengisahkan perjalanan sejarah dari penghargaan tertinggi di bidang sastra dan jurnalistik ini. Ia mengungkapkan bahwa helatan pertama penghargaan ini diselenggarakan pada 1917, kurang dari setahun sebelum pecahnya pandemi flu Spanyol, yang kondisinya hampir sama dengan apa yang hari ini kita rasakan.

Hadiah Pulitzer di bidang jurnalistik didominasi surat kabar New York Times dengan meraih tiga penghargaan. Salah satunya untuk kategori bergengsi, yaitu laporan investigasi yang ditulis Brian Rosenthal tentang industri taksi Kota New York. Tulisan itu menguak bagaimana predator pemberi pinjaman mengeksploitasi para pengemudi. (M-4)
 

BERITA TERKAIT