05 May 2020, 21:21 WIB

Pemerintah Sebut Stok Beras Hingga Akhir Tahun 4,7 Juta Ton


Dhika kusuma winata | Ekonomi

MENTERI Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menjamin ketersediaan stok beras hingga akhir 2020 bisa mencukupi kebutuhan. Pemerintah mencatat stok beras hingga akhir tahun tersedia hingga 4,7 juta ton.

"Perincian stok (beras) sampai akhir tahun 2020 diperkirakan masih bisa 4,7 juta ton. Tentu Bulog punya tugas untuk menjaga stok yang lebih dari 1 juta ton untuk cadangan beras pemerintah," kata Airlangga usai rapat terbatas kabinet melalui video konferensi di Jakarta, Selasa (5/5).

Terkait mekanisme penyerapan beras, Airlangga menyebut Bulog akan menyerap beras sebanyak 900 ribu-1,4 juta ton dari petani. Terkait dengan program bantuan sosial, Bulog juga akan menyerap sebanyak 450 ribu ton gabah kering giling.

"Dengan demikian Bulog punya kemampuan penyerapan gabah kering giling dari petani yang lebih besar," ucap Airlangga.

Untuk komoditas gula, Airlangga menyebut masih ada yang akan masuk ke pasar dan dari Bulog dengan total 25 ribu ton. Kemudian, ada stok gula pasir 140 ribu ton yang direalokasi juga akan masuk ke pasar dari rafinasi. Ditambah, 9 ribu ton juga akan masuk dari rencana realokasi ekspor untuk ke dalam negeri.

"Diharapkan jumlah stok (gula) ini akan meningkat di bulan Mei dan Juni," ujarnnya.

Untuk komoditas bawang putih yang masih memerlukan impor, imbuh Airlangga, pada April lalu diperkirakan masuk sekitar 94 ribu ton dan Mei ini sekitar 78 ribu ton. Stok tersebut ditargetkan untul mencukupi kebutuhan selama Ramadan hingga Lebaran nanti.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebut neraca pangan nasional 11 komoditas meliputi beras, jagung, bawang merah, bawang putih, cabai besar, cabai rawit, daging sapi, daging kerbau, telur ayam ras, minyak goreng, dan gula pasir diprediksi aman stoknya hingga Juni mendatang.

"Kami sangat yakin 11 komoditas dalam kondisi aman dan dalam kendali pemerintah. Mudah-mudahan tidak ada aral melintang dari segi distribusi yang bisa berakibat harga tidak stabil di beberapa tempat. Kalau ada provinsi yang defisit harus hati-hati atau mendapat perhatian khusus, tidak lain mengingatkan kita terkait distribusi dalam kondisi covid-19 ini," ungkapnya.(OL-4)

BERITA TERKAIT