05 May 2020, 20:03 WIB

Pemerintah Bersiap Hadapi Keadaan Normal Baru di Bidang Ekonomi


Dhika Kusuma Winata | Ekonomi

PEMERINTAH menyiapkan exit strategy dari pandemi covid-19 agar masalah bencana kesehatan tidak merembet terlalu jauh bagi sektor perekonomian yang berakibat menurunnya pertumbuhan.

"Perkiraan menyebutkan Mei ini akan ada flattening off sehingga pemerintah juga sedang mempersiapkan exit strategy dari pandemi covid-19 itu sendiri agar maslaah di kesehatan tidak merembet ke sektor-sektor lain," ucap Airlangga usai rapat terbatas kabinet melalui video konferensi di Jakarta, Selasa (5/5).

Strategi tersebut, ucap Airlangga, bisa dijalankan dengan metode 'normal baru' (new normal) terkait dengan pandemi covid-19 yang secara global belum bisa diprediksi kapan berakhir hingga vaksin ditemukan.

Bisa saja, ujar Airlangga, pabrik-pabrik yang sebagian besar saat ini dibatasi ke depan akan tetap bisa berproduksi dengan menjalankan protokol kesehatan secara ketat.

"Tingkat konsumsi rumah tangga menurun, kegiatan ekspor impor juga menurun karena memang banyak negara yang dalam tanda petik shut down. Ini tentu kita mengharapkan ada program exit strategy dengan metode normal baru di mana untuk pabrik misalnya harus menjalankan protokol covid-19," ucapnya.

Baca juga : Pertumbuhan Anjlok, Airlangga: Kita Siapkan Exit Strategy

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Airlangga menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I 2020 masih tergolong baik bisa mencatatkan angka positif di tengah perlambatan akibat pandemi covid-19.

"Berdasarkan rilis BPS ada beberapa hal yang menjadi catatan, yaitu pertumbuhan ekonomi kita kuartal I seperti diperkirakan akibat pandemi covid-19, kita masih positif di 2,97% dan proyeksi di APBNP 2020 itu sektiar 2,3%. Oleh karena itu, kita harus terus menjaga pertumbuhan," ungkap Airlangga.

Perlambatan ekonomi juga tercermin dari segi inflasi month to month April 2020 yang sebesar 0,08%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan April tahun lalu. Inflasi year on year pada April juga tercatat lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

Menurut Airlangga, perlambatan pertumbuhan akibat pandemi covid-19 diakibatkan terjadinya demand shock seperti telah diprediksi sebelumnya. Perlambatan diperkirakan bisa berlanjut pada kuartal II saat ini lantaran pemerintah masih menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Perlambatan ekonomi di kuartal I ini, imbuhnya, senada dengan apa yang terjadi di 213 negara lain. Mengutip prediksi yang disampaikan lembaga internasional IMF, Airlangga menyebut tiga negara, yakni Indonesia, Tiongkok, dan India, masih bisa mencapai pertumbuhan positif. (OL-7)

BERITA TERKAIT