06 May 2020, 08:00 WIB

Tolak Gigitan Nyamuk Aedes Aegypti dari Rumah


mediaindonesia.com | Humaniora

Ancaman virus korona atau coronavirus disease (covid-19) saat ini memang tengah menghantui masyarakat Indonesia. Namun, masyarakat juga harus mewaspadai timbulnya penyakit demam berdarah dengue (DBD). Apalagi saat ini, peralihan musim dari musim hujan ke musim panas sedang berlangsung.

Penyakit yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes Aegypti ini tetap menjadi perhatian ketika semua pihak lebih tertuju pada penanggulangan serangan virus korona. Genangan air di saat hujan dapat menjadi sarang tempat berkembang biak nyamuk pembawa penyakit DBD tersebut.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hingga awal April 2020 ada sedikitnya 39.876 kasus DBD terjadi di Indonesia. Kasus DBD terbanyak terjadi di Jawa Barat dengan total 5.894 kasus diikuti oleh NTT 4.493 kasus, Lampung 3.682 kasus, Jawa Timur 3.045 kasus, dan Bali 2.173 kasus.

Adapun, jumlah korban meninggal akibat DBD telah mencapai 254 orang. Angka kematian akibat DBD tertinggi berada di NTT yaitu 48 jiwa, Jawa Barat (30 jiwa), Jawa Timur (24 jiwa), Jawa Tengah (16 jiwa), dan Lampung (16 jiwa).

Dari laporan WHO berjudul 'WHO Global Strategy for Dengue Prevention and Control 2012-2020' ditemukan bahwa sebagian besar negara di Asia Tenggara merupakan endemi DBD.

Dalam laporan tersebut juga dijelaskan adanya pola musiman DBD di berbagai negara termasuk di Indonesia dengan peningkatan kasus kerap terjadi saat musim hujan. Angkanya selalu melonjak dari tahun ke tahun.

Merebaknya kasus DBD di Indonesia ini tentu sangat mengkhawatirkan. Tak kalah berbahaya dengan penularan covid-19, vaksin khusus untuk mencegah DBD pun belum ada. Pengobatan biasanya bertujuan untuk mengatasi gejala dan mencegah infeksi virus semakin berat.

Dalam beberapa kasus, ada sejumlah kesamaan pada diagnosis kasus DBD dan covid-19. Bahkan, dalam kasus positif DBD palsu, ternyata pasien merupakan penderita covid-19.

Penyakit yang ditularkan oleh gigitan nyamuk ini memiliki beberapa gejala umum, seperti demam tinggi mencapai 40 derajat celcius, sakit kepala, nyeri sendi, hingga mual dan muntah. Gejala umumnya timbul 4-7 hari sejak gigitan nyamuk dan dapat berlangsung selama 10 hari.

Gerakan 3M
Beberapa cara bisa mencegah timbulnya penyakit ini khususnya dilakukan dari rumah, misalnya dengan gerakan 3M, yakni menguras, menutup tempat penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas. Selain melakukan 3M, menggunakan lotion penolak nyamuk juga menjadi salah satu cara agar terhindar dari gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

Salah satunya adalah menggunakan Soffell. Produk ini adalah penolak nyamuk dengan bentuk lotion dan spray. Soffell dapat digunakan untuk melindungi tubuh dari gigitan nyamuk pada setiap kesempatan, seperti saat santai, menonton televisi, serta tidur.

Adapun, beragam manfaat dari Soffell yakni melindungi tubuh dari gigitan nyamuk dengan efektifitas perlindungan mencapai 8 jam. Soffell pun memiliki dua perlindungan. Pertama, perlindungan mencegah nyamuk dengan aromanya serta kedua, melindungi tubuh dari gigitan nyamuk dengan rasa yang tidak disukai nyamuk.

Dikenal sebagai penolak nyamuk, Soffell mengandung pelembab atau moisturizer khusus, sehingga saat digunakan kulit tetap lembut, tidak panas, dan tidak lengket.

Soffell memiliki enam varian, yakni Soffell lotion & spray Geranium, Soffell lotion & spray kulit jeruk, Soffell lotion bengkoang, Soffell lotion apple, dan varian terbarunya adalah Soffell alamia.

Soffell Alamia merupakan Soffell varian baru dengan formula baru yang terbuat dari ekstrak daun cymbopoghon sehingga lebih nyaman dikulit, tidak membuat kulit kering, tidak lengket di kulit dengan aroma yang lembut. Soffell Alamia mempunyai 2 varian yaitu Yuzu Tea Fresh dan Mint Geranium. (Gan/S3-25)

BERITA TERKAIT