05 May 2020, 11:08 WIB

Didi Kempot, Pergi Sebelum Benar-Benar Padam


Fathurrozak | Weekend

KEPERGIAN Didi Kempot, The Lord of Broken Heart, tentu benar-benar mematahkan hati siapa pun. Bahkan mungkin bagi yang baru saja lima bulan silam intensif mendengarkan lagu-lagunya. Kepergiannya, serupa dengan fenomena ‘kemunculannya kembali’ beberapa waktu belakangan, mengejutkan banyak orang.

Memori terakhir saya bersama Didi Kempot ialah ketika menyanyi sembari berjoget di festival musik Synchronize tahun lalu. Ia naik ke panggung sebagai penutup penampil hari pertama.

Hingga waktu melewati pukul 24:00 WIB, saya melihat di depan panggung utama di kawasan Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat itu masih dipadati penonton. Banyak anak-anak muda yang ikut berjoget, meski tidak sedikit yang tidak tahu lirik yang dinyanyikan. Seperti seorang kawan saya malam itu. Atau, ada pula yang memang paham betul permulaan lirik hingga akhir.

Baca juga: Lagu Temanggung Tidak Terwujud, Sobat Ambyar Sedih

Bukan saja anak muda saya kira hadir malam itu. Saya juga melihat orang-orang seumuran bapak saya juga hadir. Bersama pasangan mereka. Mungkin, sudah berusia di atas kepala 4 lebih.

Namun, memori saya pada Didi Kempot rasanya bukan pada malam itu saja. Jauh sebelum saya mengenal apa itu festival musik, di Jawa Tengah sana, saya sudah familiar dengan lagu-lagunya. Mulai dari Stasiun Balapan, Sewu Kuto, Ketaman Asmoro, atau Pak Rebo, sudah menjadi lagu-lagu yang biasa saya dengar saat kecil. Mendengarnya melalui radio, atau dari sound system di rumah orang yang tengah menggelar hajat sunatan atau pernikahan.

Maka, mendengarkan lagu-lagunya, juga bukan hanya soal campursari atau kenelangsaan. Melainkan juga mengurai ingatan lampau. Peristiwa apa, latar ketika mendengarkan lagu saat itu, dan ingatan-ingatan yang terawat samar-samar.

Sekira pertengahan tahun lalu, nama Didi Kempot seolah menjadi fenomena. Bahwa namanya menjadi validasi suatu tren. Anak-anak muda berbondong-bondong bangga mengaku ia bagian dari Sadboy dan Sadgirl, atau Sobat Ambyar.

Sejak itu, Didi Kempot seolah keluar dari kekonstanan kariernya. Ia mendadak jadi idola baru. Panggung-panggungnya disesaki anak muda. Seperti ketika suatu partai yang berkantor di Jalan Raden Saleh, Cikini menggelar hajat justru banyak anak muda nonpartisan ngeluruk ke sana. Lagunya diperdengarkan lewat pemutar musik. Kaus-kaus banyak mencetak muka dan kata-katanya. Juga promotor musik siap membawanya.

Bahkan, Didi Kempot yang mungkin dulu hanya laku bagi telinga Jawa Tengah dan Jawa Timur, menjadi ikon suatu brand e-commerce, sejajar dengan Prilly Latuconsina atau bintang Korea.

Ketenarannya yang ‘terlambat’ itu, juga berkat upaya anak-anak muda di belakangnya yang membranding ulang adik dari almarhum anggota Srimulat Mamiek Prakosa itu.

Saat itu, saya juga sempat menulis mengenai fenomena tenarnya Didi Kempot di kalangan anak muda. Faktor yang mendorong ia begitu digandrungi secara tiba-tiba, dan bagaimana kelak yang harus dilakukan Lord Didi untuk bisa mempertahankannya.

Saya menemui direktur program Synchronize Fest Kiki Aulia Ucup saat itu. Ia menyebutkan, ramainya anak muda membaiat Lord Didi sebagai junjungannya, bukan semata loyalitas. Melainkan Didi sebagai produk tren. Saat itu, Ucup memprediksi dua hingga tiga tahun ke depan dari tahun 2019, akan berubah lagi. Saat orang menemukan suatu tren yang baru, saat orang menemukan sosok yang lain.

Selepas dari masa ‘ketenarannya yang terlambat’ itu, Lord Didi memang tidak berangsur tenggelam. Banyak promotor yang masih mengundang, atau malah sosoknya dijadikan sebagai ambassador suatu merk.

Bahkan, saat ia diajak Najwa Shihab dan Tompi untuk menggelar konser galang donasi di tengah situasi pandemi, ia menggenapkan total donasi menjadi Rp9 miliar saat itu.

Atau, ketika konser dengan KompasTV yang juga ditujukan untuk donasi pada masa pandemi medio April, dalam waktu setengah jam mencatatkan angka Rp1,5 milyar. Menandakan ia mampu menciptakan benchmark bagi dirinya.

Kini, ia memang belum begitu lama mencicip manis kepopuleran. Belum melampaui waktu tiga tahun seperti yang diprediksikan Ucup. Namun, mungkin baginya sudah cukup. Saatnya ia beristirahat, bersama sunyi yang menyisakan patah hati.

Konsistensi dan persistensinya di campursari, adalah suatu ‘legacy.’ Ia pergi, sebelum benar-benar padam. Sugeng kondur, Lord! Biar kami yang menangisi, dengan tembang-tembangmu yang abadi. (OL-1)

BERITA TERKAIT